Comfort Zone


Nggak terhitung banyaknya jumlah job hoppers di Jakarta. Pindah dari satu agency ke agency lain, dari bank satu ke bank lain, atau dari lokalisasi satu ke lokalisasi lainnya.. Banyak. Sebenarnya apa yang dicari para job hopper tadi? Tawaran gaji yang naik terus setiap mereka pindah? Atau benefit-benefit lain seperti insurance yang unlimited atau bahkan housing loan? Atau outing ke luar setiap tahun? Apa semua pekerjaan itu harus dihitung dari jumlah angka-angka tadi?

Mungkin nggak semua orang berpikir seperti yang tadi. Sebagian job hoppers ada yang bener-bener pure ngerasa bosan dengan tempat kerja lama mereka. Alasannya bosannya macem-macem. Ada yang berpangkal dari kerjaan yang nggak challenging, itu-itu aja setiap hari. Ada juga yang ngerasa suasana kantornya bikin mereka ‘tumpul’. Bahkan ada juga yang beralasan tempat makannya itu-itu aja.

Hal bagus dari seringnya pindah kantor, jenjang karir pasti lebih cepat. Iya dong. Mana ada orang yang pindah kantor untuk di posisikan di jabatan yang lebih rendah kecuali kalau soal gaji. Dan positifnya banyak hal baru yang challenging. Banyak hal baru yang bisa di pelajari juga. Tapi kredibiltas dan loyalitas para job hoppers perlu dipertanyakan. Apa sebab dia keluar dari perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya. Kalau ternyata memang pattern, wah bisa-bisa hrd kantor kerepotan, 6 bulan setelah dia masuk mesti siap-siap cari pengganti. Yang ini malah bikin repot orang-orang.

Dan lain lagi kasusnya dengan orang-orang yang bertahan stay di suatu kantor untuk jangka waktu yang belasan tahun. Mereka ngelakuin hal yang sama setiap hari, duduk di tempat yang sama setiap hari dan ngerasa nyaman banget dengan kondisi mereka. Mereka tipe orang-orang yang cari aman. Cari aman dari kondisi di luar kantor yang sebenarnya susah untuk cari kerjaan baru. Cari aman dari kebijakan kantor lain yang mungkin punya kebijakan yang beda. Kalau dilihat dari kualitas orang-orang kayak gini, orang yang gak merasa dirinya tertantang untuk ngelakuin hal-hal baru berarti mereka orang yang nggak mau belajar. Dan seumur hidup, mereka akan bertahan dengan kualitas yang sama. Jadi orang yang terlalu nyaman dengan comfort zone nya adalah mereka yang mediocre. Mereka yang nggak mau maju. Bukan berarti salah juga sih orang yang seperti ini. Untuk urusan kantor yang dari tahun ke tahun ini aja sih mereka adalah orang yang tepat. Tapi untuk perusahaan yang ingin maju dimana setiap bagiannya orang-orang kayak gini yang jadi penghambat. Dan nggak ada jenjang karir untuk mereka.

Kenapa nggak kita, yang walaupun punya comfort zone sendiri, coba keluar sebentar dari comfort zone tadi. Coba hal baru. Lakuin project luar kantor (kalau seandainya urusan kantor yang bikin bosan). Renovasi rumah. Travel! Kalau nggak libatin diri dengan project-project sosial atau ikut quiz, di internet, tv, radio kek… Atau kalau mau gila lagi. Resign dari kantor! Well yang terakhir nggak di recommend kalau belom pasti sih.

Ada baiknya juga punya comfort zone, tapi sesekali keluar dari lingkaran nyaman ini juga perlu. Untuk tahu kualitas diri kita. Dan harus tahu jalan pulang balik nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s