An Average Audience in Stephen Hawkings’ Classroom

At least that’s how I felt when I watched Interstellar. Satu setengah jam pertama sih rasanya normal. Walaupun alur film nya lambat tapi orang awam dengan otak yang jauh dari jenius seperti gue ini masih meraba-raba sebenarnya ini film mau ngapain. Harapan sebelum masuk pintu bioskop adalah film scifi penuh action ala star trek. Tampaknya harapan itu mulai sirna saat satu-satunya action di film itu mulai ada setelah film berjalan dua jam. Itu pun scene konflik antar manusianya juga di latar belakangi oleh motif yang kurang begitu meyakinkan. Dan disinilah film mulai dragging.

Setengah jam terakhir nilai gue di kelas ini pun semakin jelas. Jauh dari A. Entah karena gue over thinking atau memang nggak mengerti yang namanya teori kuantum. Dan pertanyaan-pertanyaan pun mulai muncul menjelang akhir film. Seperti; apaan sih lima dimensional itu? Terus ini orang sebenarnya bertahan berapa lama di samping cincin Saturn? Itu warp zone aka worm hole siapa yang bikin? Ah entahlah. Lama kelamaan cape juga mikir terus sementara nggak ada juga kiri kanan gue yang bisa jawab karena sama-sama average students. Gue pun nggak segitu terhiburnya sama film ini. Jadi keluar dari bioskop rasanya lemes banget. Mungkin karena filmnya panjang dan otak mulai panas.

Hal yang sangat memorable dari film ini adalah robot-robot dengan bentuk aneh kotak-kotak kayak biji domino tapi bisa ngejalanin pesawat luar angkasa dengan tangan yang mirip penggaruk punggung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s