Insta Traveller

Akhir-akhir ini sering banget diajakin temen ke tempat-tempat yang nggak common untuk banyak orang dijadikan tempat wisata, atau disebut juga off-the beaten-track. Dari pulau Weh, Ora Beach, Alor, Iceland, Greenland bahkan Mongolia. Seru sih kalau dibayangkan. Tapi keseruan itu pudar begitu alasan yang kelur dari teman tadi adalah karena ‘anti mainstream’, karena Instagenic, karena belum banyak orang Indonesia yang ke sana, karena biar berasa paling terkini.

Dan sejujurnya sebagian besar dari kita memang ingin berbagi gambar saat perjalanan dengan teman-teman terdekat kita secara real time. Tapi sayangnya ada beberapa orang yang terlalu terobsesi dengan pencitraan di dunia sosial media ini, sehingga kegiatan Instagram dan keren-kerenan foto ini menghabiskan sebagian besar waktu saat traveling.

Makna traveling berubah menjadi ajang eksistensi dan lomba mendapat likes. Traveling pun kehilangan esensi nya. Tempat-tempat nggak common tadi pun jadi tolak ukur gengsi oleh para generasi anti mainstream. Lama kelamaan scene anti mainstream ini pun sama aja dengan ajang tampil di Tattler. Padahal kenapa juga kalau traveling cuma di tempat mainstream misal Bali aja, atau Cirebon misalnya.

Ini jadi self note juga buat gue sendiri. Memang ada kepuasan sendiri saat kita di likes foto nya dengan orang, tapi sudahlah, apalah arti 100-1000 likes itu dibanding dengan moment ngobrol bareng teman traveling saat sunset dan ketawa-tawa ngikik nggak penting di perjalanan? We are making memories kan? Dan banyaknya likes itu nggak akan kita kenang juga anyway. Jadi mungkin kita juga pertanyakan lagi ‘apa sih alasan kita traveling?’

*pic from Skyscanner

Advertisements

One Comment Add yours

  1. ranselijo says:

    Bener banget! A few days ago I talk to my friend. Bahwa makin banyak orang yg melakukan travelling dan meng-updatenya di medsos. There’s nothing wrong with that. Aku pun penikmat foto2 yg bagus tapi kadang jenuh baca bacaan yg hanya menitikberatkan: gw ke situ krn bosen jln ke Bali, bosen ikutin pola orang. Usaha bgt untuk anti mainstream. Aku merindu pejalan dan pencerita seperti Agustinus Wibowo.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s