The Art of Being Underdog

Beralih menjadi seorang wiraswasta dari karyawan membutuhkan banyak sekali penyesuaian. Salah satu nya adalah mindset. Bahwa perusahaan yang kita set-up itu masih kecil dan terhitung sebagai pemain baru di industri dan lupakanlah gemerlap dunia PR, kreatif, digital dan advertising itu. Karena sejujurnya perusahaan yang baru dimulai dan masih seumur jagung akan merangkak awalnya. Memiliki mindset lama saat bekerja di perusahaan multinational saat ini adalah ilusi. Realitanya, bisnis kita tidak lagi bermain dalam liga firma dan agensi besar.

Fokus bukan lagi tentang persaingan, penghargaan di acara award bergengsi atau siapa masuk agency mana. Sekarang saatnya kembali ke esensi awal yaitu mengapa perusahaan ini didirikan. Seorang teman pernah memberikan saran untuk fokus ke kultur perusahaan, hubungan antar personal, langkah-langkah dasar seperti pengelolaan pajak, benefit dan fasilitas karyawan, business projection, formula dan approach perusahaan dan terobosan-terobosan yang bisa dilakukan perusahaan mengingat ukuran team yang masih kecil dan mudah untuk dibentuk ke arah terentu. Semuanya seperti belajar lagi dari nol. Jujur saja, buat gue ini pengalaman yang luar biasa. Saat kita lompat masuk ke sebuah sistem yang sudah terbentuk, untuk merubah sesuatu itu akan sangat sulit. Apalagi punya kesempatan belajar bagaimana sistem itu dibentuk awalnya. Sering juga kita cenderung berusaha fit-in ke dalam sistem yang mungkin valuenya memang berbeda.

Sebagai underdog dengan team yang kecil, menentukan arah, langkah, cara pikir, kreatifitas, inovasi bahkan ide-ide gila dalam koridor business itu sangat memungkinkan. Underdog bukan lagi saingan siapa-siapa. Kita bermain di liga sendiri dan menciptakan benchmark sendiri. Pembuktian pun bukan ke publik lagi, tapi ke diri dan team sendiri. Si underdog tidak punya pressure untuk tampil dan nyaring.

Pertanyaannya adalah; mampukah si underdog yang saat ini merangkak pelan, berjalan dengan tegap dan kemudian berlari? Itu pertanyaan yang ditujukan ke diri sendiri. Yang membuktikan adalah waktu dan komitmen. Bukan satu atau dua tahun, tapi lima atau sepuluh tahun ke depan. Untuk sementara waktu ini gue mau menjalani dulu serunya jadi underdog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s