Instant Kepoism

Jakarta itu luas. Buktinya tinggal di satu kota bisa lho sepuluh sampai lima belas tahun baru akhirnya bertemu dengan teman-teman masa SMA tanpa sengaja. Memang tidak pernah menjadi prioritas untuk catch-up ketemuan, tapi lucunya setelah sekian tahun tidak beretemu kok rasanya ada hal-hal yang membuat suasana awkward.

Pertanyaan keingintahuan akan hidup seseorang dengan instan itu yang membuat gue jadi canggung. Dari lima belas tahun tentu saja banyak hal-hal yang terjadi dalam hidup masing-masing. Dan rasanya gue tidak punya kewajiban untuk menceritakan kehidupan gue saat ini, walaupun mereka teman lama. Bukan karena apa, tapi rentetan pertanyaan-pertanyaan macam ‘kerja di mana sekarang?’, ‘sudah kawin belum?’, ‘sudah punya anak atau belum?’, ‘sekarang tinggal di mana?’, ‘kerja di perusahaan apa sekarang?’ Itu hanya pertanyaan untuk mengetahui status sosial seseorang dengan instan. Alias kepo menstadarisasi kehidupan orang-orang pada umumnya (dan dia) dengan kehidupan gue. Buntut pertanyaan itu adalah ukuran. Ukuran apakah seseorang itu sukses setelah sekian lama tidak bertemu atau malah gagal menurut standar dia dan society?

I’m sorry I can’t give u instant answer. If you want to have a quick glimpse of my life why not visit my linked-in or my Instagram. Or even my blog? Menurut gue kehidupan setiap orang tidak bisa diukur demi status sosial. Buat gue keberhasilan adalah jumlah berapa banyak tempat-tempat yang sudah gue kunjungi. Menurut gue kebahagiaan adalah bisa kontribusi dalam pekerjaan, community, society bahkan keluarga. Dan mungkin, ketenangan adalah menemukan jalan spritual yang berbeda. Sayangnya tidak satupun dari hal-hal tadi bisa diukur esensinya dengan instant. Dan setiap orang punya cara pandang pribadi yang beda pula.

Orang Indonesia terbiasa membuat hal-hal kepoism tadi menjadi pertanyaan basa-basi. Dan jawaban pertanyaan itu menurut gue tidak memvalidasi apapun. Mostly mereka cuma mau lihat result tanpa peduli cerita di balik itu. Akhirnya cerita kita saat ini pun hanya jadi bahan obrolan saat mereka bertemu teman lainnya (bayangkan buka puasa) dan hidup kita hanyalah salah satu titik dalam diagram sosial versi dia. Screw you. You can’t measure me. 



Mungkin saat betemu teman lama kita coba hindari pertanyaan-pertanyaan standar yang membabi buta. Start with an old story, old jokes that we used to laugh about. Current stories on news whatsoever. Kemudian kita bisa cari kesamaan dalam hal-hal tertentu yang membuat suasana jadi cair. Saat dia mengerti value hidup kita dan kita mengerti dia, silahkan untuk masuk ke 2nd layer questions. Pelan dan coba dengarkan. Jangan paksa orang untuk cerita. Siapapun dia yang kita kenal lima belas tahun lalu bukan berarti dia orang yang sama saat ini. Dan kalau salah satu pihak tidak tertarik untuk membuka diri ya sudah. Jangan menggerutu. Dua belah pihak tidak punya kewajiban membuka diri satu sama lain.

Tapi kalau cuma mau tahu status hidup sosial ekonomi seseorang dan kepo-kepo buat gossip buka aja instagram dan linked-in. Atau about.me nya sekalian. Googling kalau perlu. Internet tells better valid stories terutama buat penikmat cerita kehidupan seseorang yang cuma di surface dan tanpa mau tahu lebih dalam lagi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s