TV Replacement

Suka atau tidak suka akan pernyataan ini; tapi kita semua adalah lakon atau bintang di kehidupan kita. Artinya kita perlu penonton. Perlu orang lain yang melihat diri kita siapa dan kemudian di kepala kita terbentuk self image yang juga paduan antara persepsi yang kita buat & tanggapan atau feed back orang lain. Masalahnya di tahun-tahun belakangan ini saat semua orang punya media sosial untuk menyiarkan kehidupan mereka, kemudian kebutuhan akan ditonton kehidupannya itu semakin menjadi-jadi.

 

 

Sekarang scrolling di path itu kayak nonton tv. Udah jarang kan nonton TV? Paling sampe rumah langsung mainan smartphone lihat path. Sama kayak nonton TV, kalau nggak suka post nya scroll langsung ke bawah. Kayak kalau lagi lihat iklan kemudian click channel lain. Sama juga instagram. Kalau suka tontonannya langsung click ‘like’. Kalau nggak suka gampang tinggal unshare. Tontonan kehidupan pun beragam. Sama seperti sinetron dan film india yang menjual mimpi. Instagram pun adalah lomba menjual mimpi yang tentu saja kalau nggak kuat iman bisa yang awalnya sekedar aspirasi kemudian jadi iri. Jadi kecemburuan sosial. Yang nggak siap lihat kehidupan orang lain yang luar biasa, seru, mewah, gemerlap dan lain-lain image yang ditampilkan membuat para penontonnya pun blingsatan berlomba-lomba untuk punya kehidupan yang sama. Yang kemudian disiarkan lagi lewat channel mereka. Saling silau-menyilau antara satu dan yang lain.

Kalau ditanya apakah semua orang siap, gue rasa nggak. Mungkin sekitar 70% dari kita nggak siap lihat kehidupan orang lain. Misalnya komen negatif kayak gini saat lihat postingan mereka; “pasti simpenan!”, “pasti ayam/kucing!”, “sengaja banget cari bule biar dibilang keren!”, “ih hipster bgt!”, “gaya banget sih traveling sana-sini duitnya dari mana sih nih orang?”, “iya deh dokter pencitraan banget…”, “ini orang kaya banget foto belanjaan nya melulu..”, “full time traveller, scuba diver.. Ck ck sok okay banget sih…” Nah. Cape kan? Cape komen. Belum lagi lihat hashtag orang di instagram. Jujur aja gue pun suka cape lihatnya. Mau komen ke postingannya? Ntar dibilang sirik iri. Padahal kan memang iya.

Trus gimana dong menyikapi supaya nggak punya penyakit hati, nggak pikiran negatif, nggak iri, nggak dengki dan nggak nyinyir. Yah isi lah kepala dengan hal-hal yang positif aja. Tapi kalau emang masih nggak kuat kemudian unfollow atau hide. Kemudian coba jaga kekaguman tadi akan hidup orang-orang yang luar biasa itu jadi aspirasi jangan sampai jadi iri. Cara yang terakhir yang terdengar sangat mudah padahal nggak; bersukur sama hidup kita. Yah mungkin kita nggak beli barang mahal, mungkin kita nggak traveling sampe new york saban bulan, mungkin kita nggak pake hashtag #louisvuiton karena kita belanja di uniqlo, mungkin kita nggak punya gadget mutakhir, mungkin kita nggak punya badan baywatch buat di pamerin. Tapi kita cukup tahu aja porsi kita, gue rasa itu cukup. Apa yang kita punya sekarang toh kerja keras kita juga. Selama kita sudah lakuin terbaik buat hidup kita ya santai aja. Banyak banget berkat yang bisa dihitung. Bahkan cape ngitungnya. Kalau rasanya belum usaha terbaik yang sudah lo lakuin nah saatnya lihat instagram orang lagi yuk. Cari inspirasi dan motivasi. Hati-hati kejeblos jadi iri.

*penulis pun masih berusaha keras menerapkan sarannya sendiri dan berpikir postif.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. arief says:

    Hahahaa.. Big LOL for the last note!

    Kebutuhan manusia untuk beropini akan selalu ada, baik yg hanya sebatas dlm pikiran, diomongin, maupun yg tertuang dlm bentuk comment. Even comment di youtube selalu ada yg negative. Silahkan liat comment di detikcom kalo mau tambah pusing.

    Kebiasaan nyinyir juga bisa dari faktor lingkungan, dan menjadi casual conversation dlm lingkup pergaulan. Gak semata2 karena iri, tp kadang karena sesuatu perlu untuk dikomentarin, terlepas dari motifnya apa. Again, kita terbiasa menjudge orang tanpa peduli fakta di belakangnya. (*towel2 Derry)

    Memang perlu upaya untuk menyikapi hati. Gak cuman melulu melihat orang yg bergaya hidup mewah, tp juga memahami orang2 yang punya “gaya hidup sendiri”, ie liburan gak pake baju extravaganza mungkin, or simply ke mall pake celana pendek sendal jepitan, or ke mall pake baju zirah besi 😀

    Hidup sesuai kemampuan aja, kalo mampu ya silahkan. Kalo nggak ya gak perlu pencitraan, apalagi sampe ngutang ya. Bener yg lo bilang, jadiin itu sebagai motivasi, untuk kesenangan sendiri, bukan untuk dipertontonkan ke orang lain. Jangan lupa bersyukur dgn apa yg udah kita punya. Count gour blessing, itupun kalau mampu..

    Like

  2. arief says:

    Happening now. West meets east love. lol.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s