So-Called Budaya Timur Di Jakarta

Sering nggak sih baca atau mendengar orang ngomong “nggak pantes deh, orang kita ini kan menganut  budaya timur yang menyunjung tinggi nilai kesopanan”. Atau kalimat ini “Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya”.

Pada kenyataannya, tidak selalu benar. Mungkin slogan atau cara hidup ketimuran tadi cuma wacana-wacana aja. Apa sih arti kesopanan itu? Apakah sekedar pakaian tertutup atas sampai bawah aja? Menurut gue diluar dari pakaian ada hal-hal yang jauh lebih penting, misalnya cara kita berkomunikasi dan sosialisasi di tempat umum. Kita akan berbicara dalam konteks kota. Kota Jakarta.

Di London, kota yang isinya berbagai bangsa dan bahasa itu, orang-orang sopan saat berbicara dengan orang asing. Sorry, excuse me, thank you itu sudah wajar di setiap kalimat. Bahkan saat lo tidak sengaja berbenturan badan di jalan dengan orang lain, serta merta akan ada suara sorry or excuse me. Bayangkan dengan trotoar Jakarta yang selalu dipenuhi dengan motor yang lewat bahkan kadang berlawan arah. Jangankan harap ada yang say sorry. Saat kita membuka pintu di tempat umum misalnya, sudah sewajarnya kita menahan pintu untuk orang belakang kita supaya tidak terbentur dan begitupun dia juga untuk orang belakangnya. Di Jakarta saat gue tahan pintu untuk orang belakang gue saat keluar atau masuk suatu tempat umum, orang belakang gue sering kali melengos ngelewatin pintu itu layaknya gue doorman yang bukakan pintu untuk dia. Begitu juga di elevator, lo mau keluar lift di Jakarta sering kali kesulitan karena orang yang mau masuk sibuk tanpa memperdulikan yang mau keluar. Masih bisa dibilang sopan?

Di Tokyo, saat kita bertanya suatu tempat, lokasi atau setiap kita membeli sesuatu kita akan dijawab dan dilayani sangat ramah. Untuk sebuah kota yang individualis orang-orangnya, hospitality mereka sangat luar biasa. Di Jakarta juga mostly ramah, tapi sesekali ada juga penjaga toko yang antara perduli dan tidak perduli melayani kita. Banyak. Tapi jangan cuma ngomongin penjaga toko, pembeli juga banyak yang kurang tertib. Misal, lihat ikea di alam sutra, setiap selesai makan dihimbau untuk mengembalikan tray makanan untuk memudahkan si cleaning service dan juga pelanggan berikutnya bisa langsung pakai meja yang tersedia. Masih banyak yang meninggalkan mejanya begitu saja berantakan tanpa peduli pengguna berikutnya. 

Di lift pun kita di Jakarta sudah jarang senyum atau menyapa orang yang beradu pandang dengan kita. Bener nggak? Jadi budaya timur itu apakah cuma sekedar tutup menutup kulit aja tanpa menghiraukan tertib, sopan, etis dan tidak perlu ramah? 

Saya yakin di luar Jakarta sangat beda, mungkin orang akan jauh lebih ramah, lebih murah senyum, lebih tertib. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s