Teman Ngobrol dan Pendengar Yang Baik

Bisa nggak gue bilang “Like I care?”. Pikiran ini terlintas saat seorang teman curhat tanpa henti dengan topik yang sama setiap hari tanpa melihat apakah lawan bicaranya, atau lebih tepatnya lawan dengarnya itu tidak lagi tertarik dengan bahan pembicaraannya. Bagaimana mau tertarik kalau obrolan itu akan seputar selangkangan, blind date, random date dan hal-hal yang berbau lendir. Over and over again. Bahkan beberapa kali saat obrolan gue arahkan ke topik-topik lain, yang agak berbobot, obrolan itu balik lagi tentang dia dan topik nya itu. Seandainya pun obrolan itu belok, biasanya soal harta kekayaan seseorang. Temen gue si ini kaya, temen gue si itu juga kaya banget. Dan banyak sekali obrolan itu berpusat ke dirinya dia. Gue ini gue itu. 

  

Maybe I’m not a good listener, tapi teman gue ini lebih parah dari gue, karena basically dia jarang sekali mau mendengar lawan bicaranya bercerita. Tapi gue juga bukan orang yang cukup direct bilang ‘enough, I want to talk about something else beside you and your damn story’ langsung ke orangnya, karena gue nggak yakin orang ini siap mendengar kenyataan bahwa gue bener-bener bosan dengan topik itu. Sehingga cerita pun terus mengalir dari mulutnya tanpa tahu kapan dia harus mengganti topik itu tanpa dia peduli tanggapan yang mendengarnya.

Gue tidak menyalahkan dia akan ketidakgubrisannya dia akan topik-topik lain sih. Menurut gue setiap orang akan mendengar, berbicara dan membahas akan hal-hal yang hanya dia mau dengar dan membuat dia tertarik saja. Bahkan pada saat ada topik hangat atau menarik sekalipun, orang ini akan tutup kuping, mencoba mengalihkan obrolan dan  membawa obrolan itu ke dirinya lagi. Jadi lupakanlah pembahasan soal aspirasi, ideas, current situation di media, bahkan issue hangat seperti eksekusi mati kemarin; lupakan. Karena di mana ada dia di situ pembicaraan berpusat ke dia dan selangkangan dia.

  
Dalam pertemanan pasti ada pergesekan dan cocok-cocokan. Pada sampai pada suatu kesimpulan, untuk dekat dan berteman lama, pastikan topik obrolan lo dan dia nyambung. Dan pastikan lo bisa bicara banyak hal dengan orang ini. Bukan hanya bicara, tapi juga pastikan dia mau mendengar. Dialog itu terdiri dari dua orang yang berbicara dan mendengar. Kalau sendiri jadi monolog. Bayangkan lo pergi berdua menghabiskan waktu berjam-jam dan lo paksa diri lo untuk mendengar tanpa didengar. Kita kan juga bukan psikiater yang dibayar perjam untuk mendengar keluhan dan cerita orang. Mungkin orang ini bukan butuh teman. Mungkin dia butuh psikiater. 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. bener banget … mau mendengar dan di dengar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s