Penikmat Seni Agung

Mungkin beberapa kali kita pernah menjumpai postingan seseorang dengan caption; “this is so me!”di sosial media dengan pongahnya berfoto di depan sebuah karya seni yang ikut dipamerkan dalam sebuh event kesenian. Atau pada saat seorang teman yang profile picture nya muka mendongak tanpa ekspresi dan bertingkah cool mengunggah film terbaru yang akan tayang di festival film internasional dengan caption; “Can’t wait”, berasa paling pertama yang tahu soal film ini kan? 

Atau kawanan orang dengan baju avant garde di barisan depan peragaan busana mutakhir di Jakarta. Siapa sih orang-orang ini? Sekilas lalu pasti kita duga mereka adalah pekerja seni yang berprestasi. 

Realitas nya teman kita tadi, hanya penikmat seni agung dan sehari-hari mereka bekerja di perusahaan-perusahaan yang jauh dari kreatif, bahkan kadang pekerjaan mereka adalah admin/ hal-hal yang jauh bertolak belakang dari kreatifitas. Nggak ada salahnya juga para penikmat seni ini menjadi gandrung akan hal-hal cool, artsy dan ecentric. Toh semua karya seni perlu penikmat juga. Tanpa ada yang menikmati karya seni menjadi rongsokan. Namun ironisnya beberapa kali para cool hunter ini mengeluh soal pekerjaan mereka yang membosankan dan monoton. Orang-orang ini sebenarnya ingin bekerja di bidang art atau design, tapi sayangnya mereka nggak memiliki bakat ataupun skill untuk menciptakan seni.

Kebalikannya, para pekerja seni yang menciptakan hal-hal hebat secara visual dan estetika punya kecendrungan lebih humble, nyantai dan apa adanya. Mereka ini walaupun karyanya dipamerkan di mana-mana mereka jarang pongah. Bahkan kadang mereka berpakaian sederhana dengan kemeja oxford dan celana khaki. Tidak terlalu perlu yang avant garde, tidak ada foto-foto instagram simetris bersama karya mereka dengn tone dan warna yang seragam filternya, isi postingan mereka juga cenderung kehidupan sehari-hari mereka, keluarga, anjingnya. Toh hotel, ruangan kantor, exterior dan karya mereka bicara sendiri di penjuru ibukota bahkan produk mereka mungkin sudah malang-melintang di manca negara.

  
Jadi kalau kamu suka lihat di sosial media manusia-manusia yang berbagi foto dengan hal-hal artsy dan cool itu, mungkin mereka cuma perlu identitas. Mungkin memang mereka lack of character, sehingga mereka merasa perlu menidentifikasi diri mereka dengan hal-hal yang fashionable, cool dan artsy. Walaupun mereka nggak necessary membeli karya seni itu. Yang penting orang-orang tahu kalau mereka relate dengan art. Padahal penggemar seni yang benar-benar mengapresiasi karya biasanya juga nggak seheboh mereka ini. Ya sudahlah. Biarkan saja. Para penghasil karya memerlukan mereka sebagai pentonton. Mereka adalah penikmat seni agung atau cuma orang yang membuktikan eksistensi pergaulan dengan hadir di pameran seni ibukota. Apapaun itu, biarkan mereka bangga, pongah, walaupun sedikit pretentious. Kalau perlu kasih mereka duduk di kursi terdepan. Karena art scene kita perlu lebih banyak orang untuk menujukkan apresiasi.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. pattawari says:

    Agung atau bukan, karya seni menyentuh semua kalangan, melampaui batas umur, status sosial, maupun pekerjaan. Terlepas dari cita rasa dan tingkat pemahaman seseorang, seni itu sejatinya personal, untuk dinikmati dan dihayati sendiri.

    Kadang kita mengangkat alis melihat satu maha karya berupa lukisan putih kosong, berdecak kagum melihat pertujukkan sendra tari, sampai mengerutkan kening melihat instalasi abstrak di pameran yang mungkin cuman senimannya dan Tuhan yang tau ini maksudnya apa.

    Kita bersenandung mendengar lagu2 dari artis favorit kita, kemudian mencibir mendengar lagu2 dangdut. Dua2nya hasil karya seni, audiensnya yang beda. Agung atau Budi, tiap orang punya subjektifitas dan ketertarikan yang berbeda.

    Kemudian masuklah era social media. Kebutuhan orang tak lagi cukup hanya sekedar menikmati dan menghayati, tapi juga ‘berbagi’..

    Berbagi untuk mengeskpresikan, berbagi untuk diasosiasikan, the poseurs, eksistensi, maupun sekedar untuk menambah pahala (indahnya berbagi– *hening) balik ke individu masing2. Ada 7.3 milyar penduduk di dunia, ntar gak kelar2 gue nulisnya. Just let them be. Even a less character is a signature.

    Humble atau pongah, Agung atau Wati, biarkan kita menikmati karya seni dengan cara masing2.. (*ambil tongsis duduk paling depan)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s