Kerja Nyata atau Kerja Halu?

Tumbuh dengan Kerja Nyata kata Jokowi. Menurut gue, kampanye kerja nyata 71 tahun Indonesia ini bukan sekedar jargon, tapi cerminan sebuah tindakan yang praktis tanpa banyak omong kosong. Kerja. Kerja yang kelihatan hasilnya. Sayangnya banyak sekali orang di luar sana masih berhalusinasi dalam bekerja. Sebuah kegiatan bekerja nggak akan ada gunanya kalau hasilnya tidak kelihatan. Mau diimingi dengan image dan bunga-bunga tetap saja kalau tanpa hasil sia-sia. Proses perlu tapi tanpa kepastian hasil juga buat apa.

Contoh saat ini banyak sekali start up bertumbuh dengan mimpi indah untuk meraup gemerciknya uang para VC dan berharap produk mereka bisa menjadi ‘disruptive innovation’. Beberapa dari mereka sangat idealis sehingga, “yang penting users dulu deh monetize nya urusan belakangan. Gue juga belum tahu monetize nya gimana…” Mungkin sering kita dengar. Orang-orang seperti ini, entah ‘barangnya bagus banget’ atau apa tapi sepertinya mereka masih berhalusinasi. Kecuali lo running charity, selama apa yang lo kerjakan tidak menghasilkan uang (dimana kita perlu untuk membayar bill dan makan sehari2) ya artinya kerja lo tidak nyata. Ya silahkan sih kalau mau hidup sehari-hari dari uang investor, tapi mau berapa lama sampai kelihatanya ‘nyata’? 

Membuat sebuah start-up juga bukan pekerjaan instan dengan harapan instan return dari investment itu memang. Tapi kalau pekerjaan ini berjalan sudah berbulan-bulan dan hasil belum nyata sementara mulut sudah berbusa-busa jualan ke sana dan ke sini, bro, mungkin at the first place you shouldn’t quit your previous job. Mungkin pekerjaan sebelumnya lebih nyata hasil. Yang luar biasa dari pelaku ‘kerja halu’ ini adalah semangat mereka yang tidak pernah pudar. Dua tahun lalu seseorang pelaku start up berkoar, ‘produk kita ini sudah dipakai xxxx (sebuah perusahaan telco)’ yang nyatanya pada saat gue bertemu dengan users nya saat pitching project mereka hanya bilang ‘awalnya saja… Habis itu nggak ada yang make’.

Mungkin gue hanya lelah dengan banyaknya bualan yang tak berujung orang-orang ini. Mungkin di luar sana masih banyak yang belum cape mendengar bualan dengan pola yang sama. Jujur saja nggak ada yang tertarik dengan kisah perjuangan seorang wiraswasta yang masih struggling. Apalagi bualan yang masih belum jelas hasilnya. Orang lebih senang mendengar cerita sukses orang lain. People want to see result. Dan biarkanlah result yang bicara. 

Dear idealist dan utopist out there. Wake up and meet my friend, a realist. Merdeka lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s