Die Passion Die

Nope. Bukan Passion fruit. Tapi passion, sebuah kampanye motivasi yang didengungkan sejak 5 tahunan lalu oleh banyak motivator, baik melalui buku maupun berbagai macam seminar. Message yang dihighlight adalah; find your passion, follow your passion and make a living based on your passion. Tapi saat bersamaan di meja-meja coffee shop di antara pembicaraan antar teman sering kita dengar ‘aduh passion gue apa yaaaa….’ ‘Gue nggak tahu passion gue….’ ‘Kayaknya gue nggak ada passion deh…’. Ya kan?

Beberapa malah sepulang dari seminar motivasi langsung quit their job dan berasa kepedean dengan passionnya. Langsung lho bikin usaha sesuai dengan passionnya. Berapa banyak yang putus asa ditengah jalan? Gak sedikit yang pasti. Karena memang bekerja sesuai passion tidak menjamin keberhasilan 100%. Just because you love to cook doesn’t mean you can easily open a restaurant and make living out of it. Diperlukan jam terbang, support system, commitment dan tentu saja capital. Passion berdiri sendiri sama dengan bersemangat pergi ke suatu tempat tanpa tau tujuan dan tersesat ditengah-tengah perjalanan. Why? Karena tidak tahu tujuan.

Mundur sedikit. Before passion there’s purpose. Tujuan. Ini yang hilang dari kampanye passion di luar sana. Kita diajak beramai-ramai menemukan passion kita, panggilan kita, sesuatu yang membuat gairah kita membuncah saat melakukannya, tapi kita tidak diberitahu hal yang penting sebelum itu semua; purpose. Menurut gue menemukan purpose jauh lebih gampang daripada mencari tahu passion kita apa. Mungkin lebih dari 50% penduduk dunia adalah generalist, orang-orang yang punya skill di berbagai hal. Tidak spesifik kepada hal tertentu. Orang-orang ini merasa kesulitan menemukan satu hal yang dia suka, what his/her passionate about. Bukan berarti mereka tidak punya passion kepada suatu hal, hanya saja mereka punya ketertarikan dengan berbagai hal. Tapi kalau mereka ditanyakan apa purpose mereka dalam melakukan sesuatu mereka akan bisa menjawab. Dan purpose akan menjadi sebuah ukuran akan seberapa jauh seseorang ini bisa menjadi expert dalam hal yang akan dia geluti. 

Misal. Seorang teman, sebut saja Mawar, baru saja membeli roller blade. Passionnya? Not sure juga, bisa jadi iya, walaupun tahun lalu dia beli sepeda juga dan awalnya dia yakin itu passionnya. Dia suka? Iya. Purposenya apa; ingin mencoba sesuatu yang berbeda saat car free day. Berhasilkah dia memenuhi purposenya? Iya. Apakah ia bisa menjadi atlit roller blade? Nggak, karena bukan itu purposenya. Usaha yang ia lakukan hanya sejauh melayani satu tujuan; ‘mencoba hal berbeda saat CFD’. Bisa nggak dia menguasai berbagai macam trick sehingga dia dicap sebagai pemain roller blade profesional? Bisa tapi dia perlu resetting lagi purposenya. Jadi element of purpose ini akan lebih dulu masuk dan menjadi destinasi akhir dari hal yang dia lakukan. Passion adalah kesungguhan dengan hati saat melakukannya. Jadi pada saat semua orang meneriakkan follow your passion, step back dulu yuk, understand the purpose. Mengerti sejauh apa kita ingin pergi. Mengerti apa sebenarnya yang ingin kita capai. Biarkan purpose ini jadi kompas dan passion menjadi bahan bakar.

Seorang teman berkata; ‘gue pengen sekali mastering sesuatu… Masak misalnya.. Atau apa gitu’. Pertanyaan gue cuma satu; purpose lo apa saat lo ingin mastering sesuatu? Mau jadi chef profesional? Mau bikin resep? Atau cuma ingin bisa masak buat teman dan keluarga saja? Di tahap ini, setelah kita setting purpose kita, kita akan tahu seberapa jago kita akan satu hal. Kalau kita mau jadi chef profesional usaha kita juga harus luar biasa. Ambil sekolah masak kalau perlu. Sama juga pada saat orang ingin membuka usaha. Tanpa tau purpose nya dia akan bingung menentukan milestone usahanya. Dengan purpose dia akan mengerti titik keberhasilan, tau kapan dia semakin jauh dari tujuan akhirnya dan tahu kapan ia harus beradaptasi untuk kembali ke rute awal menuju tujuannya.

Jadi jangan buru-buru follow your passion. Setting your purpose dulu. Kemudian masukkan segumpal passion dalam adonan. Masukkan solid commitment dan campurkan dengan never ending willingness to learn, to adapt. Masak sampai matang dengan supportive environment,tunggu sampai make it, angkat dan siap disajikan di media sosial. Biar jadi makanan inspiratif buat banyak orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s