Kamu Anak Industri Apa?

Gosip industri. Ngumpul-ngumpul sesama pekerja di satu industri. Update industri. Perhelatan penghargaan industri x. Dulu pada saat masih bekerja di sebuah perusahaan komunikasi yang spesifik memberikan service digital, rasanya istilah-istilah di atas dianggap perlu dan berkesan hanya untuk kalangan tertentu saja. Semacam pengukuhan bahwa istilah di atas dipakai untuk membuat sense of belonging, sebuah komunitas, sebuah eskslusifitas yang kalau dipikir-pikir sekarang ini, aduh apa perlu ya.

Ya apa perlunya membuat ekslusifitas sebuah bidang pekerjaan yang kebetulan lagi booming? Misal ngumpul warga digital industry, update social media industry, penghargaan startup industry. Dan ‘jepret!’ kemudian dengan bangga dibagikan di lini masanya. Sementara digital, social media dan apapun itu yang lagi banyak dibicarakan, hanya medium saja, buat gue, sisanya bisnis. Selama kita masih belum segitunya making benefit (money) out of this ‘industry’, lupakan dulu euforia jadi so-called digital expert. Malah  pada kenyataannya setelah Holborn, my marketing agency, berjalan dua tahun, tanpa mengkotak-kotakkan service kita ke medium tertentu, digital dan social media berkontribusi hanya 20% dari total revenue. Mostly klien mengharapkan solusi yang terintegrasi dengan berbagai medium, channel dan touch point customer mereka. Artinya apa? Saat kita mulai membuat eksklusif expertise kita ke bidang tertentu, solusi yang kita tawarkan selalu akan mengarah ke medium tertentu, di mana itu bukan yang klien mau. Belum tentu setiap klien memberikan brief, sosial media, blog, website dan lain-lain jadi solusi satu-satunya. 

Dan ini yang terjadi di beberapa agency ternama. Nggak heran pada saat konsultan agency ternama dari divisi digital saat menerima brief yang membutuhkan pengetahuan lain, activation atau PR misalnya, langsung lempar ke divisi lainnya yang berhubungan dengan activation dan PR. Si konsultan jadi malas mikir untuk mencari solusi terbaik bagi bisnis si klien karena medium nya tidak bersinggungan dengan service divisinya dia. Proposal pun digarap keroyokan tanpa ada pemahaman matang antara solusi satu ke yang lain. Kadang solusi medium digital kadang hanya sentuhan ‘nice to have’ saja karena si agency X punya divisi digital. Atau sebaliknya, pada saat si advertising Y memberikan proposal campaign, divisi PR nya mereka memberikan ‘element of media engagement’ di proposalnya. Mungkin hal ini terjadi karena pekereja kreatif dan bidang komunikasi mengkotak-kotakkan diri mereka. Saya melabeli diri saya sebagai konsultan PR, saya anak digital, saya creative nya adpertising and so on. Jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan label saya, saya nggak bisa muter otaknya. 

Buat gue, mengerti bisnis si klien lebih penting. Dan solusinya ya marketing, mediumnya bisa apa saja tergantung nature of business si client, touch point customer mereka dan solusi mana yang lebih efektif dan efisien. Lucky me, para konsultan dan project manager di Holborn mengerti tentang approach ini dan membiasakan mereka untuk membuka cara pikir mereka saat menangani klien yang datang. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s