Kapankah Cukup itu Cukup?

Setiap menghadapi sebuah kejadian dalam bentuk konfrontasi dan argumen, walaupun gue ini orangnya terlihat ngeyel dan keras kepala, tapi beberapa detik kemudian selalu berpikir keras; apakah argumen orang tersebut benar? Apakah gue yang benar? Misalnya, saat seorang teman dekat menyampaikan concernya tentang kegemaran gue membeli sepatu atau tas. Hal ini membuat gue berpikir; apakah kebutuhan gue akan suatu barang itu didasari oleh keperluan atau hanya keinginan mendapat barang baru? Memang kalau bongkar lemari dari bodypack sampai tas laptop, dari sepatu sneakers sampai boat shoes, sebenarnya gue punya. Dan sepatu-sepatu dan tas tersebut secara bergiliran dan teratur gue selalu pakai. Gue memang jarang membuang sepatu sampai sepatu tersebut benar-benar rusak. Jadinya menumpuk di lemari. Dan sekali lagi gue bertanya? Perlu atau hanya mau?

Sebagai manusia modern yang hidup di tengah lautan papan billboard dan media kapitalis lainnya, sulit untuk tak tergoda untuk tidak menginginkan materi setiap kaki melangkah ke pusat perbelanjaan. Bahkan gue pun memiliki penghidupan dari gerak ekonomi ini.  Kita semua sama-sama tahu bahwa lemari di rumah sudah penuh dan mungkin juga memang kepala sedang membuat justifikasi untuk membenarkan tindakan membeli barang. Semakin kuat menolak dan berpikir hemat semakin kepala kita melakukan pembenaran-pembenaran. Apakah mungkin benar-benar puasa konsumtif? Kebutuhan tersier macam baju, sepatu, tas dan segala macam godaan dunia modern ini, adakah cara membendungnya? Kenapa kepala selalu mikir, ada barang baru bagus, ada penawaran dan diskon dll, kapan cukup benar-benar cukup? 

Mungkin kalau dunia isinya adalah orang yang jago berhemat di mana-mana, gagallah sistem kapitalis dunia dan ekonomi negara pun melambat. Daya beli menurun. Jadi di mana titik tengahnya? Ini sebuah pertanyaan di kepala banyak orang yang cukup conscious akan situasi flow dunia kapitalis konsumtif ini. Godaan akan selalu datang silih berganti. Kita akan kenyang dengan godaan iklan dan promo. Pemerintah akan selalu berusaha mendorong ekonomi berjalan terus, tapi juga akan berhati-hati jangan sampai ada kredit macet dan masyarakat nya halu dengan spending uang yang mereka tidak punya.

Oh God, dunia ini ribet ya. Benar kata meme seorang teman di time line. Noleh ke kiri salah kurang ke kanan kata orang. Lihat ke bawah disuruh mendongak kata banyak orang. Akan sulit mungkin merasa cukup. Tapi saat seseorang bisa merasa cukup, dia adalah orang yang kaya. Karena tidak ada rasa yang membuat dia berkeinginan untuk memenuhi kekurangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s