Ketenaran Yang Memabukkan

Being famous. Seberapa pentingkah menjadi orang yang terkenal? Media adalah milik semua orang. Siapapun bisa mempublikasi dirinya mereka; dari bulu ketek sampai belahan dada, dari cerita putus sampai video selfie dengan mendesah-desah di bigolive. Privasi sudah tidak ada harganya. Emas adalah jumlah likes dan perunggu adalah subscribers. Kita semua adalah attention whore dengan level yang berbeda-beda. 

Hidup pun konsentrasinya terpecah-pecah. Sebagian menghabiskan waktu memilih foto dan filternya, sebagian lagi berburu tempat / event yang sedang jadi bahan pembicaraan demi konten di timeline. Apa sih ujungnya? Mengapa begitu penting punya banyak followers? Nabi bukan, guru juga bukan, mengapa matters angka-angka tersebut?

Beberapa dari orang yang saya kenal, buat mereka ketenaran itu penting. Dengan menjadi tenar, mudah untuk mereka mendapatkan penghasilan tambahan, menjadi endorser, yang kadang dibayar namun banyak juga yang sekedar barter dengan berabagai barang dan fasilitas. Menjadi tenar adalah akses. 

Menjadi sorotan bukan tidak tanpa kompensasi dan resiko. Saat seseorang mengekspos dirinya, maka diri dia adalah domain publik yang siap dikiritsi, dicemoh, dipuji, dijadikan tolak ukur bahkan dijadikan bulan-bulanan. Jangan heran kalau banyak guyonan yang menggunanakan foto instagram atau foto diri si karakter yang tenar atau yang ingin menjadi tenar ini. Saat kamu mulai berani live di bigo, akan banyak trolling-trolling berkomentar sampah yang harus siap kamu terima.

Ketenaran begitu memabukkan. Sebagian bahkan berilusi kalau dirinya cukup dikenal di publik hanya karena likes-likes yang ia terima di akun media sosial. Mereka akan sibuk menjaga citra diri mereka di mata para followers nya, yang kemungkinan besar para followers tersebut antara peduli dan tak peduli. Postingan mereka pun tertata rapih, color coordinated, penuh dengan pencitraan, baik itu mencitrakan bahwa ia berbudaya, hidup mewah dan seribu hal indah lainnya. Tanpa terasa, hal-hal palsu tersebut mengkonsumi waktu mereka dan menjelma menjadi sebuah karakter yang menempel. Karakter palsu yang jauh dari realitas kehidupan sebenarnya. 

Saya kamu dan mereka adalah pelaku sekaligus penonton. Dan kita semua haus cerita dari persona yang inspiratif. Kita penonton butuh cerita yang orisinil, apa adanya, genuine, penuh dengan kecerobohan, namun aspiratif secara bersamaan. Di layar kaca sudah banyak aktor aktris sandiwara sinetron kejar tayang. Sudah bosan jemu dan muak bertahun-tahun dijejelin dengan kepalsuan layar kaca. Tentunya kita berharap untuk tidak menonton persona fiktif kejar tayang content di layar smartphone kita juga kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s