Diskriminasi Keimanan

Di dunia modern di mana teknologi dan ilmu pengetahuan adalah dasar dari segala macam keputusan penting, ternyata manusia masih belum bisa meninggalkan cara primitif mereka dalam berpikir. Cara pikir dibawah pengaruh tekanan baik itu ketakutan, ancaman atau paranoid, tidak akan menghasilkan keputusan yang logis. Cara pikir ini adalah cara pikir ‘cari selamat’; selamat dari sesuatu yang diyakini membahayakan jiwanya baik sekarang atau untuk masa depan. Cara pikir cari selamat ini cenderung egois dan mementingkan keselamatan diri sendiri daripada kebaikan bersama. Sayangnya pengaruh tekanan yang dianggap membahayakan tadi biasanya bersifat subjektif, artinya ancaman tersebut hanya berlaku bagi yang merasa terancam saja, walaupun belum terbukti atau belum terjadi bahkan sifatnya terkadang sangat spiritual…

Misalnya, saat ini ramainya perdebatan pemilihan gubernur di Jakarta yang menjadi topik utama media sosial di mana pun di Indonesia, membuktikan sebagian pemilih tidak bisa berpikir secara bebas tanpa pengaruh tekanan akan takut dan paranoid terhadap sesuatu. Kali ini mungkin terhadap akhirat. Sebagian memilih calon gubernur mereka dengan pertimbangan agama. Bahwa memilih pemimpin yang tidak seiman itu dosa dan berakibat malang di akhirat nanti. Pada kenyataannya banyak mereka yang memiliki pimpinan perusahaan di tempat mereka kerja yang tidak seiman. Standar ganda memang, namun tampaknya urusan pemilihan gubernur ini yang banyak kepentingan politiknya mulai mempengaruhi banyak orang sehingga banyak yang berpikir dengan cara yang primitif, berpikir dibawah dasar ketakutan, meninggalkan logika dan menutup mata bahwa pemimpin yang tidak seagama dengan dia ini sebenarnya pemimpin jujur yang mumpuni dalam memimpin Jakarta.

Menurut gue, eksklusifitas atas dasar iman itu, juga seperti ras, menimbulkan diskriminasi dibanding dengan melihat sesuatu secara objektif, berdasarkan value, integritas, rekam jejak dan kompetensi seseorang. Di dunia ini hidup manusia yang diciptakan bermacam ragam suku, rasa, bahasa dan kepercayaan, rasanya sulit untuk tetap keukeh bahwa hanya orang seiman lah yang sama mulia nya dengan diri kita. Berpikir seperti itu sama saja menghina hasil ciptaan Tuhan yang lain, mencemoh karyaNya yang berbeda dari kita, mengecilkan nilai pekerjaan Tuhan yang bentuknya lain dengan kita. Tidak memberikan kesempatan kepada manusia lain yang jelas memiliki kemampuan lebih, baik, jujur dan bersih hanya karena mengamini Pencipta dengan cara yang berbeda adalah penghinaan kepada Pencipta. Siapa kita bisa menghakimi ciptaan Tuhan lainnya? Sekian ribu manusia di muka bumi apa iya hanya cara mengamini Tuhan ala dirinya saja yang paling mulia dan benar? Siapakah sisa manusia yang hadir di segala penjuru dunia? Sampah belaka? Sebegtu banyak kah Tuhan menciptakan sampah padahal manusia siapapun adalah karya Tuhan yang luar biasa. Seketika luntur kemanusiaan kita saat menilai manusia lain berdasar cara seseorang beriman ke Tuhannya.

Kalau melihat ke lapangan, pada kenyataannya banyak orang yang menggunakan tameng iman dan menjadikan senjata untuk kepentingan mereka. Namun sekali lagi, banyak yang tutup mata. Sudah tidak mengherankan kalau ada orang yang berteriak nama Tuhan kemudian menaburkan kebencian ke dalam ceramah, himbauan dan khotbahnya. Padahal tidak bisa dan tidak akan nama Tuhan sejalan dengan kebencian. 

Gue menyerah, entah harus bagaimana menggelitik para pemikir primitif yang ‘self-righteous’ ini. Padahal kalau mereka mau sedikit membebaskan diri dari ketakutan mereka akan dogma agama, berpikir dengan kacamata penduduk Indonesia, berpikir atas dasar kemajuan dan kesejahteraan banyak orang, gue yakin sebagai bangsa kita lebih maju. Jangan korbankan kepentingan dan kemajuan banyak orang hanya karena cara pikir yang mementingkan ‘keselamatan’ spiritual individual.

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Anonymous says:

    Untuk sebagian besar orang, agama adalah jalan hidup, tuntunan spiritual yang melekat dalam kehidupan sehari2. Kita berdoa sebelum, tidur, sebelum makan, beribadah, dan senantiasa diingatkan bahwa ada kehidupan lain di akhirat nanti. Kehidupan yang abadi.

    Seperti kehidupan dunia, PILKADA juga bagian dari kehidupan sementara, bukan tujuan akhir. 5 tahun pemerintahan yg bersih, anti korupsi dan pembangunan kota yg indah menjadi gak ada artinya dibanding kenyamanan di surga (iya kalo masuk). So yes, orang umumnya lbh memikirkan kepentingan (dan keselamatan) pribadi dibanding apapun juga. Tujuan akhir.

    People vote for their beliefs. Gender, suku, ras, budaya, agama akan punya andil besar dalam membentuk opini dan kepercayaan masing2 orang, dan menjadi preferensi dasar dalam memilih. Hal paling simple, udah umum orang tua di indo selalu meminta anaknya cari jodoh yang seagama. Dan gak banyak orang tua yang mau menyekolahkan anak di sekolah2 swasta yg terafiliasi dgn agama yg berbeda.

    Untuk sebagian orang, perintah agama adalah absolut, tidak terbantahkan. Maka ketika pemikiran independent, sekalipun itu demi kepentingan orang banyak dibenturkan pada pandangan absolute, well.. say no more.

    Dalam kasus PILKADA, toleransi keagamaan seperti bergeser dari makna sesungguhnya. Bukan toleransi kepada agama lain, tetapi toleransi kepada agama sendiri, yang kadang mendegradasi nilai2 agama itu sendiri.

    “Gapapa deh kurang pengalaman, yang penting seiman. Gapapa deh korupsi, yang penting seagama.” Yet, they compromise. Compromise yang kebablasan.

    We can only hope for the best. Terbaik buat gue mungkin bukan yang terbaik buat mereka. Terbaik buat mereka juga mungkin bukan yang terbaik untuk gue. Siapapun pemenangnya nanti, semoga itu yang terbaik untuk Jakarta, dan bangsa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s