Senjata Politik dan Kedok Kecemburan Sosial

Di negeri ini apapun kasus sosial atau pertikaian yang dikaitkan dengan agama ujung-ujungnya urusannya runyam. Bukan karena soal agama memang soal yang sensitif, tapi banyak juga orang yang sengaja menggiring suatu kasus atau pertikaian menjadi urusan agama padahal dibelakangnya banyak sekali kepentingan yang menunggangi. Wait, bukan di Indonesia ini saja, di mana-mana tepatnya. Perang di Syiria contohnya, yang kalau dilihat backgroundnya adalah mengenai kekukasaan dan politik, namun ujung-ujungnya agama yang menjadi kambing hitam agar orang awam berperan serta saling bertikai. Ya, orang awam itu tanpa mereka sadari menjadi boneka para elit yang punya kepentingan. Sama juga seperti di Indonesia, kepentingan segelintir orang dalam merebut kekuasaan sebenarnya adalah dalang dari setiap kasus yang berbau agama, mulai dari demonstrasi wiro sableng, sidang penistaan agama dan lain sebagainya.

Tapi yang membuat gue prihatin adalah korban-korban yang menjadi boneka adu domba ini ada di lingkungan pertemanan juga. Banyak yang mendadak extreme memanjangkan jenggot yang definitely bukan jenggot hipster, karena tumbuhnya satu-satu dan berantakan, sebagai ekspresi mereka dalam keikutsertaan ‘bela agama’. Boleh saja mendadak menjadi religius dan kemudian menjadi lebih ekspresif dalam menjalankan agama masing-masing. Cuma kenapa baru sekarang? Kenapa saat para elit punya kepentingan dan mengadu domba orang satu dan yang lain mereka ini mendadak religius? Artinya mereka kemakan umpan para yang punya kepentingan kan? Kenapa nggak dari dulu aja rajin ngaji dan meninggalkan cimeng dan minuman keras? Tapi kok sekarang mendadak sharing postingan beranda religius yang penuh hasutan. Masa mereka nggak sadar sudah menjadi boneka-boneka politik? 

Di sisi lain ras pun menjadi objek empuk untuk menghasut dalam konteks agenda politik. Ras keturunan tionghoa yang kebetulan kebanyakan memang beragama kristen sering menjadi objek yang disudutkan karena simply mereka minoritas. Kaum minoritas yang ditekan bertahun-tahun pastilah punya kemampuan lebih untuk bertahan hidup. Mereka menjalani hidup yang keras di generasi sebelumnya karena puluhan tahun lalu tekanan kepada minoritas ini sangat terasa dan oleh sebab itu generasi minoritas yang sekarang, tengah menikmati hasil jerih payah generasi mereka sebelumnya. Menurut gue wajar saat hidup di bawah tekanan pasti setiap orang punya daya juang yang lebih dan mau bekerja keras ekstra lebih dibanding orang yang tidak ditekan sama sekali. Saat hidup kita selalu dimanja dan enak, itu jadi racun karena hidup jadi serba gampang dan terlena. 

Mereka yang terlena dan saat ini hidup seadanya tentu saja silau saat melihat generasi minoritas ini tengah menikmati materi jerih payah orang tuanya. Kesilauan ini mengarah ke sinisme. Kadang tidak mereka sadari bahwa dibalik materi dan kecukupan itu ada kerja keras yang luar biasa. Karena masyarakat kita menganut collective value, artinya kepo ke orang lain itu biasa, kecemburuan sosial pun muncul. Iri hati adalah bentuk nyatanya. Kepalang iri, mereka tidak mau melihat asal-usul kekayaan seseorang, tidak mau melihat tuh orang juga hidupnya susah dulu dan bisa sukses karena lagi lagi ‘kerja keras!’. Ah sudahlah, dah terlanjur cemburu. Makanya jangan heran saat ini ada yang bilang ‘Jangan sampai negara kita dikuasai Cina!’. Ini asal usulnya adalah kecemburuan sosial. Iri hati karena tak mampu bersaing dalam kehidupan nyata. Akhirnya merembet ke mana-mana, termasuk agama. Duh lagi-lagi agama. Iya, saat seorang warga Indonesia yang keturunan dan beragama Kristen atau Katolik memiliki daya saing tinggi di pekerjaan misalnya, nanti sinismepun akan bermuara, ‘Cina sih ya… duh jangan sampai ekonomi kita dikuasai keturunan Cina’, ‘Nggak seiman nggak bisa jadi pemimpin kita’. Wait,… jangan-jangan saat sinisme itu dilemparkan itu adalah bentuk kecemburuan sosial mu, karena kamu malas, frustasi karena tidak punya daya saing kepada yang lain dan kamu membawa tameng agama dan ras sebagai argumen sampah mu. 

Tenang belum telat untuk sadar bahwa kerisauan kita dalam konteks agama tadi adalah boneka-boneka politik orang lain. Belum telat untuk menahan diri tidak cemburu, kembali ke balik komputer, kerja, kerja dan kerja dan berani bersaing secara terbuka tanpa embel-embel kambing hitam agama dan ras. Cukup menyadari aja sudah bagus. Karena jujur saja kalau urusan agama dibawa-bawa banyak yang tidak mau buka mata dan telinga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s