Dihantui Takut

Sesuatu yang dipercaya sebagai Sumber dari segala hal dan menjadi tumpuan harapan dalam kehidupan setiap hari seharusnya memberikan rasa aman, rasa terlindungi, rasa dicintai sehingga kita yang membaringkan dan menyerahkan hidup kita kepada si Sumber itu dilingkupi dengan damai.

Saat distorsi untuk berserah kepada sang Sumber itu mulai banyak, sulit untuk datang ke sang Sumber dengan perasaan damai. Distorsi yang paling mengganggu adalah rasa bersalah yang muncul dari dosa. Dosa muncul karena ada peraturan atau ketentuan yang dilanggar. Walaupun ketentuan dan peraturan tersebut tidak selalu bersifat ilahi, artinya kadang peraturan itu adalah interpretasi manusia akan keinginan Sang Sumber, manusia menciptakan dan mengartikan rasa bersalahnya dalam bentuk ketakutan. Yak benar sekali, ketakutan akan neraka. Penggambaran neraka yang persis dengan mimpi buruk. Ketakutan yang luar biasa, combo dengan rasa bersalah yang menghantui tiap hari, menyebabkan seseorang jauh dari Sumber.

Memang aturan akan selalu ada sampai kapan pun, namun, tidak semua aturan masuk akal dan wajar. Saatnya kita membuat pilihan untuk tidak mengabaikan kecerdasan, mengabaikan kemauan untuk berpikir apakah semua larangan valid dan apa dasarnya. Bayangkan jika setiap menit ada saja aturan yang membuat seseorang berdosa karena tidak boleh ini tidak boleh itu harus ini itu. Berapa banyak rasa bersalah dan rasa takut yang terkumpul hari demi hari? Rasa yang bercampur tadi tentu saja berbuntut ketidak-tenangan, marah, sedih, tidak nyaman, insecure dan kadang turut menghakimi sekitarnya karena absen nya rasa damai di hati. Padahal belum tentu juga larangan dan aturan tadi ilahi, artinya bisa jadi hanya bikinan manusia. Kalau manusia saja bisa berfatwa kemudian menentukan mana yang baik aman yang tidak, mana yang boleh, mana yang dihindari dan mana yang dosa, maka benarlah sebagian besar aturan adalah bikinan manusia yang berkepentingan.

Hidup dalam dogma memang sulit. Kadang banyak sekali perseturuan antara akal sehat, common sense dan aturan. Saat akal sehat dan common sense menang, seseorang punya lebih banyak kebebasan dalam bertindak, namun sebaliknya, saat aturan muncul dan kita terbentur oleh aturan tersebut, rasa bersalah dan ketakutan tadi juga menghantui sehingga seseorang kehilangan kedamaian dan juga kebebasan. Jadi untuk hidup yang selalu dilingkupi rasa damai, kita harus jauh dari rasa takut, gelisah, insecure dan selalu gunakan otak sehingga logika punya peran penting dalam menciptakan kedamaian di hati. Boleh setuju boleh tidak. Kalau gue memilih untuk punya hati yang bebas rasa takut akan dogma sehingga damai itu di hati itu benar-benar ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s