Hari ke 12 Tanpa Gula dan Ketosis

Ternyata kalahnya Ahok di pilkada, yang notabene adalah kekalahan akal sehat vs dogma agama, tidak membuat mood gue rusak. Setelah 12 hari hidup tanpa gula, stress dan mood yang biasanya bak rollercoaster (coba deh jadi pengusaha) cenderung stabil dan terkontrol. Walaupun dalam suasana panik, seperti kamis kemarin saat jalanan padat dan nyaris nggak keburu ngejer pesawat jam 8 malam ke Bali, sementara belum check in dan butuh waktu at least 1,5 jam ke airport ~ bodohnya jam 5 masih di Mega Kuningan, ternyata masih bisa tenang untuk decide naik ojek online ke citraland nenteng rimowa cabin size kesayangan dan lanjut ngebut naik taxi. Thank you Bluebird dan skill supirnya yang super gesit. Heboh, tapi entah kenapa tetap tenang dan emosi terkontrol. Hebat, ternyata tanpa gula nyaris dua minggu bisa membuat orang yang by nature blingsatan bisa kalem begitu…

Kebanggan kedua gue adalah ‘bisa nyetir 4 jam Bandung – Jakarta tanpa ngantuk!’… Ini bener-bener achievement buat gue yang sebelumnya saban hari ngantuk di sembarang tempat. Selama nyetir pun otak nggak berasa foggy, clear, fokus dan tajam rasanya. Jadi 120km/ jam pun tetap fokus. Segitunya ya efek tanpa gula.

Terkahir hitung berat badan, dua hari lalu, angka mencapai 102, yang di dua minggu sebelumnya di 105-106. Lingkar pinggang memang tidak ada yang berubah secara signifikan, mungkin perlu dikebut dengan olahraga high intesity atau Intermittent Fasting (IF). Kalau fasting untuk berhenti makan malam di jam 8 malam dan mulai makan jam 12 siang sih cukup rutin, karena entah kenapa yang biasanya pagi sangat lapar, sekarang nggak juga. Kalaupun sedikit lapar diminumin air juga reda. IF ini berguna untuk seseorang mencapai tahap ketosis, di mana seseorang menggunakan lemak di badannya untuk menjadi energi badan dan otak. 

Iseng ngecek status darah, ternyata kemarin angkanya adalah;

Kolesterol 202, LDL 111, HDL 35, Glukosa sewaktu di angka 90,7 dan yang mengejutkan adalah asam urat yang biasanya selalu tinggi, pas diukur ternyata di angka 5,92 (biasnya 7 ke atas).  Trigiseril yang turun drastis, tahun lalu di atas 500, sekarang di angka 280 ( walaupun disarankan untuk di angka ga lebih dari 200). Tekanan darah pun normal. Goalnya yang penting sebenarnya adalah membuat glukosa tetap di angka itu dan menurunkan Trigoserilda ke angka di bawah 150.

Masa healing crisis berupa flu dan alergi kambuh juga sudah lewat. Dan nggak sebegitu parahnya. Cuma harus make sure istirhat di jam 10 aja.

Bagaimana dengan craving gula dan karbo? Jujur sih gue nggak sampai craving dan bahkan nggak mau untuk mencicipi gula dan tergiur. Cake aja nggak tergiur. Cuma sulit kalau dihadapkan dengan croissan Monsieur Spoon misalnya, cuma bisa ngiler. Tapi hidup tanpa gula itu artinya benar-benar terbatas pilihan makanan saat lo ke minimarket. Bahkan nggak ada! Cuma bisa beli Aqua dan kacang almond (yang ga murah). Atau butter, avocado dan plain yoghurt. Kan males ya ngemil keju (walaupun beberapa jenis keju aman dan dianjurkan untuk diet keto). Sejujurnya bagian fun dari kompisi makanan keto ino adalah karena avocado, telur, bacon dan keju memang favorit gue dan gue nggak keberatan kalau harus sering-sering makan menu itu.

Well anyway, perjalanan masih panjang. Gue akan coba untuk update terus sepak terjang menjalankan gaya hidup tanpa gula dan low carb ini. Keep yourself updated. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s