Is Being Faithful = Being Bitter? 

Gue nggak bisa untuk tidak memperhatikan tingkah laku beberapa orang yang kebetulan lini waktu dan update media sosial terbaca tanpa disengaja. Terutama sejak pilkada kemarin, makin terkelompok lah orang-orang di sosial media, either mau pilih paslon X atau mau pilih Y. Padahal di balik preferensi mereka yang akhirnya berlawanan tersebut kita saling kenal dan berteman. Ternyata idealisme telah memisahkan kita semua. Kalau sekedar idealisme berdasarkan performa dan hasil kerja, saling berbeda itu biasa saja. Yang bisanya kita berdebat melalui media sosial dan kolom komen, pada saat bertemu di kehidupan nyata gue rasa kita dan teman kita yang berbeda idealisme bisa wajar, saling menghormati, saling tertawa dan bisa saling setuju untuk tidak setuju. Tapi yang gue takut adalah saat preferensi terpengaruh idealisme agama. Iya takut. Argumen apapun yang dilontarkan kalau sudah terpengaruh isu sensitif ini si lawan pasti merasa absolut benar. Perdebatan itu nggak akan bisa objektif, dan ujung-ujungnya hubungan kita jadi gak enak karena si lawan menggap kita pendosa dan dia lebih kudus, tanpa dosa. Coba bayangkan kalau ketemu orang kudus ini di kehidupan nyata setelah kita adu argumen di media sosial? Nggak enak dong menghadapinya.

Tapi dampak positif dari momen pilkada kemarin ini banyak yang akhirnya terdorong untuk ‘mendadak’ lebih alim. Mungkin mendadak rajin membaca mengaji, memanjangkan jenggot (walaupun sehelai-sehelai), membagikan artikel dari laman-laman agamais dan bahkan sengaja memasukkan kata-kata istigfar atau hamdalah dalam update postingan kesehariannya. Banyak orang yang tampil di media sosial seolah-olah mereka ini bertahun-tahun belajar agama. Luar biasa. Akhirnya orang-orang yang bersebrangan dengan mereka dalam berependapat di anggap tidak alim, tidak pintar agama dan calon penghuni neraka. Lupakah fakta beberapa minggu sebelum hype pilkada ini mereka masih sibuk nyimeng, miras dan boro-boro lah shalat.



Okay sekarang pilkada usai dan pemenangnya sudah ada. Eksistensi para pendukung dari kubu idealisme agama masih ada di berbagai timeline. Mereka-mereka ini (mungkin) mendadak tobat hadir di timeline kita dengan update yang judgemental, kritik sosial yang sebenarnya kecemburuan sosial, berbagai share update dari media yang entah benar atau tidak isinya, komentar-komentar nada pahit sambil membully di kolom-kolom media mainstream dan opini sesat yang entah dari mana sumbernya. Kalau update dan komentar pahit tersebut sudah sampai ke lini masa yang personal dan sering gue jadi bertanya ‘kenapa majunya iman dia harus beriringan dengan ke pahitanya dalam melihat dunia keseharian?’.

Apakah menjadi beriman itu harus antipati dengan banyak hal?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s