Agama; Obat, Candu & Lomba

Karl Marx pernah bilang bahwa agama bisa menjadi candu. 
Agama awalnya adalah tuntunan hidup penting untuk menjadi pegangan individual dalam memberikan harapan dan buat banyak orang adalah aturan. Tapi banyak juga yang mengimani agama terlalu dalam dengan segala interpretasinya, kemudian menyampingkan kesadaran berpikir sehatnya. Sayangnya banyak juga yang menggunakan agama sebagai alat untuk mempengaruhi orang lain dan mendapatkan kekuasaan. Agama dengan dogmanya bisa membelenggu kemajuan dan keterbukaan suatu masyarakat akan hal-hal baru, teknologi, value baru, bahkan sulit untuk memaklumi hal-hal lain yang berbeda dari dogma nya. Apalagi pada saat seseorang sudah membuang cara pikir sehat nya untuk dalih agama dan kemudian membenarkan segala hal yang sesuai dengan interpretasi dogmanya walaupun bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di sekitarnya. Tapi apa yang sebenarnya membuat agama seolah menjadi sebuah candu?

Mungkin agama adalah obat dari pahitnya dunia. Dengan meyakini Pencipta ada, secara psikologi kita tahu bahwa sebuah harapan selalu ada. Sebuah pertolongan akan selalu ada. Keputusasaan memiliki jawaban yaitu harapan. Namun pahitnya dunia bukan untuk diratapi, dikutuk dan menjadikan kita lemah dan menggunakan dalih bahwa agama akan membawa ke kehidupan yang baik (nantinya). It’s true. Tapi harapan tanpa usaha adalah sia-sia. Makanya saat agama dijadikan pelarian saat menghadapi pahitnya hidup, agama yang awalnya obat bisa menjadi adiktif, bikin ketagihan. Overdosis agama membuat manusia menjadikan sebagai dalih untuk melawan akal sehat, menyalahkan hal di luar kontrol kita, menyampingkan sisi lemah manusia, bahkan kadang mengutuk yang lainnya. Dan sebagaimana obat menjadi candu, overdosis agama membuat banyak orang enggan untuk sadar, berdiri dan berusaha tanpa harus merasa terzalimi, tertindas, menjadi korban berlindung di balik harapan ke surga. Tau kan istilah ‘Kalau di Indonesia, apa-apa agama, ini itu agama, apapun ujung-ujungnya agama lagi’. Jangan-jangan kita yang menggunakan dalih agama tadi adalah kita yang enggan untuk menghadapi kenyataan dan malas berusaha melawan keras dan pahitnya hidup, dan menggunakan agama sebagai tameng. Kan selama ini sinetron kita mengajarkan seperti itu. Si tokoh utama ditindas diserang habis-habisan seolah tak berdaya, kemudian si tokoh berserah diri dalam doa diiringi derai air mata, tapi itupun si tokoh utama tidak akan berusaha melalukan perlawanan atau mengubah apapun. Hanya minta pertolongan Tuhan (mungkin scriptwriter) mengubah nasibnya aja sampai dua epsiode terakhir. Dan si antagonis masuk rumah sakit jiwa (mungkin jawaban doa si tokoh). Itulah realita masyarakat kita. 

Majunya dunia dan peradaban seringkali meninggalkan kecemasan. Ketakutan untuk bisa bersaing, ketakutan untuk menerima hal baru, ketakutan untuk berani terbuka dan sedikit banyak kecemburuan sosial ekonomi. Dan lagi-lagi saat takut tersebut muncul banyak yang defensif dengan tameng ya apalagi kalau bukan agama. Agama menjadi tameng ketidakmampuan dan keengganan untuk lebih progresif. Sebagian bereaksi keras, sebagian lagi diam-diam mengutuk mungkin berharap surga segera memanggil. Entahlah.

Agama awalnya adalah sebuh tata cara hidup dan jalan hidup agar seseorang punya harapan dan memperoleh kehidupan kekal di surga. Saat kita meyakini hal tersebut, hidup seolah memiliki makna. Namun segala usaha untuk memperoleh tempat di surga terkadang sering salah kaprah. Sebagian merasa bahwa dia lebih layak mendapat tempat karena dia lebih banyak usahanya dibanding yang lain. Dan perlombaan menuju ke surga pun seolah menjadi sangat kompetitif. Padahal mungkin kalau satu orang ke surga gue yakin tidak akan menggusur tempat yang lainnya. Harapan ke surga dan usaha-usaha mendapat tempat di kehidupan kekal nanti terkadang menggusur makna kehidupan dunia yang ada sekarang seolah tidak begitu penting. Akhirnya banyak yang meyakini pencarian surga tanpa memaknai kehidupan di dunia. Terus apa arti Sang Pencipta membawa kita ke dunia kalau hanya janji surga yang penting dari kehidupan di dunia? Apakah dunia hanya ruang tunggu dokter sampai suster memanggil kita masuk satu persatu? Lantas apa yang kita mesti lakukan di ruang tunggu ini? Saling meludah? Saling mehakimi? Saling merasa lebih pantas? Bukankah Tuhan ingin kita menjadi saling berguna? Membuat ruang tunggu dokter ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk dihuni? 

Duh peliknya membahas agama ini. Gue takut kalau sampai semua orang overdosis dan persaingan masuk surga membuat kita saling hujat. Seandainya di jidat seseorang ada skor dosa dan pahala, mungkin kita bisa saling mengukur siapa yg lebih pantas untuk surga siapa yang tidak. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s