Cintai Hidup; Cara Terbaik Melawan Teror.

Satu lagi serangan teroris di belahan dunia lain, kali ini di London dan korbannya adalah para pejalan kaki di London Bridge dan Borough Market. Menyusul sebelumnya bom panci di Kampung Melayu, teror di selatan Filipin dan bom bunuh diri di Manchester. Siapa yang tidak akan mengutuk rentetan kejadian ini? Menyalahkan teroris pun percuma karena virus radikal itu sudah menyebar ke mana-mana seperti virus flu. Yang diharapkan adalah ketakutan dari kita yang tidak sepaham dari mereka. Nyaris seluruh dunia tidak sepaham dengan mereka. Namanya juga virus bisa mengenai orang yang berpotensi terjangkit, jangan heran kalau ada headline berita setelah bom dan teror terjadi seperti ini “para tetangga mengaku bahwa si x pelaku teror bom adalah orang yang ramah dan alim”, damn it’s true! Virus ini lebih bisa menyasar kepada orang-orang yang terlalu alim sehingga mereka sibuk di cuci otak akan akhirat dan janji bidadari yang akan melayani nafsu seks mereka. Mereka tidak peduli dengan kehidupan yang dijalani saat ini. Trus bagaimana kita menghindari supaya tidak terjangkit virus tersebut?

Kita lihat dulu sebenarnya apa yang mendorong mereka untuk menyerang orang secara acak dan tanpa ragu membunuh diri sendiri juga? Satu hal yang pasti adalah; mereka menyembah kematian. Kematian dan janji-janji bidadari itu didengung-dengungkan. Bahwa alam kematian adalah peristiwa yang mengerikan dan untuk menghindari dan mencapai jalan ke surga yang dipenuhi bidadari seks itu cara instannya adalah mengorbankan diri untuk memusnahkan orang yang tidak di jalan iman mereka. Menurut gue ini bukan lagi soal iman mana yang benar dan mana yang salah. Faktanya dunia terbagi-bagi atas kepercayaan spiritual yang berbeda. Terima saja kenyataan itu. Tapi yang pasti ini adalah soal kehidupan vs kematian. Sama seperti gelap vs terang. Banyak yang sudah tersesat bahwa mereka kira mencapai surga cuma bisa dilalui dengan menyembah kematian.

Kehidupan adalah pemberian Tuhan. Dan untuk sampai di umur saat ini, kehidupan ini dilalui dengan kasih sayang dan pengorbanan orang tua. Kalau kita diawali dengan kebencian kita sudah lama dibuang orang tua kita. Bayangkan 9 bulan, kemudian masa balita dan akhirnya remaja. Betapa banyak kasih yang dicurahkan orang tua kita agar kita bisa hidup. Kehidupan ini modalnya adalah cinta kasih. Kehidupan juga memberikan hal-hal yang luar biasa dan kehidupan memberikan kita kesempatan untuk berguna bagi orang lain. Sebagaimana pemberian dan hadiah yang luar biasa sulit didapatnya, pasti kita berusaha untuk merawat hidup ini, berusaha untuk tidak sakit, dan berusaha membuat orang terdekat kita tetap hidup dengan sehat. Dan gue yakin Tuhan berharap hadiah yang diberi oleh Nya tidak disia-siakan. Kita diharapkan untuk mencintai hidup bukan justru melenyapkan hidup sendiri atau orang lain. Bayangkan kalau hadiah terbaik yang kita beri ke orang lain dibuang oleh orang itu, bahkan dia melenyapkan hadiah yang kita beri ke orang lain lagi. Si pemberi hadiah pasti murka. Masa iya kita berharap ganjaran surga setelah kita memusnahkan hal spesial yang diberikan oleh Tuhan? Which is ya kehidupan itu sendiri…

Sekarang mari kita lihat kematian. Suatu malam gue mendengar ceramah di televisi seorang ustad yang berbicara tentang kehidupan setelah kematian, tentang akhirat dll, dan selama 20 menit dan penjelasan mengenai siksa, neraka, dan hal-hal lainnya sangat vivid dan detail yang tentu saja membuat kita bergidik. Bayangkan cerita ini kita dengar sehari-hari dan berkali-kali. Gue rasa virus ketakutan karena menggunakan ancaman neraka membuat banyak orang yang ingin segera menghindari neraka dengan instan langsung ke surga. Dan banyak yang melwatkan hidup yang luar biasa ini dan fokus mendapat tempat di akhirat nanti apapun syaratnya. Walapun mesti mengorbakan si pemberian Tuhan tadi. Padahal gua yakin ada yang menipu mereka untuk akhirnya mereka renggut hidup sendiri dan orang lain. Ini adalah cara rekrut neraka, untuk menambah banyak penduduknya dengan iming-iming surga. Congratulations Demons! You made it. Mereka yang menolak janji Tuhan bahwa kematian sudah dikalahkan justru sibuk berebut untuk mati dengan harap masuk surga instan. 

Mengapa tidak mencitai kehidupan? Cuma orang yang nggak tahu betapa nikmat kopi Mournmouth di Borough Market beserta homemade food nya yang berniat membuat kacau di situ. Betapa indah pemandangan Thames River dari London Bridge dan sayang sekali si pelaku teror tidak peduli dengan itu. Hidup menjanjikan banyak kemungkinan indah, coba saja traveling, lihat dunia. Kepala pasti akan terbuka bahwa penduduk dunia ini sebenarnya ramah-ramah dan kepercayaan dan keimanan mereka dan latar belakang yang berbeda justru membuat kita takjub dan kagum. Bukan benci. Nikmati segala jenis kuliner, alam yang luar biasa indah, berbagai jenis manusia yang juga indah (uhuk) juga segala tawa dan drama nya. Man! Life is good. Sekali lagi hidup di dunia dipenuhi dengan hal-hal yang menakjubkan. Dalam hidup juga banyak yang mencintai kita, dari keluarga, teman dan kolega, kita tidak punya alasan untuk membuat mereka kehilangan kita kan? Lupakan sejenak akhirat dan janji-janji surga kalau akhirnya kita akan membuat orang lain sengsara. Hidup diberi ada agar kita mencintai kehidupan itu sendiri dan tidak takut akan kematian. Hargai pemberian Tuhan dan pengorbanan orang tua. Buka mata, nikmati hidup dan jadilah bagian penting dan berguna di dalamnya. Gue yakin janji indah surga dan kehidupan kekal milik orang yang menghargai ciptaanNya. Cintai kehidupan sendiri dan hargai kehidupan orang lain. Tidak mungkin Tuhan menghembuskan kehidupan dengan penuh kesia-siaan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s