Budaya (kan) Pamer

Sosial media menjadi etalase kehidupan orang-orang kota sering kali berubah menjadi ajang pameran keberhasilan dan materi. Suka atau tidak kita semua pernah memamerkan sebagian hidup kita yang kadang kita anggap lebih dari orang lain. Pamer liburan, pamer pakaian, pamer pekerjaan bahkan pamer badan. Memang tujuan sosial media bergeser menjadi wadah pengakuan dan bentuk eksistensi di komunitas tertentu (yang diharapkan). Asosiasi hal-hal yang orang pamerkan tadi kepada image diri, baik itu genuine maupun palsu adalah identitas. Kita adalah apa yang (mampu) kita pakai, mampu kita beli dan mampu kita dapatkan. Identitas kita yang nyata dan pengertian jati diri kita sendiri dan value kita pun mulai buram.

Seorang praktisi di dunia PR selalu concern mengenai personal branding. Terutama personal branding di media sosial. Menurut dia, personal branding dibentuk melalui apa yang dipakai dan bagaimana kita merpresentasikan diri kita di media sosial, pendeknya, tujuan yang diharapkan adalah decak kagum orang-orang yang melihat akun seseorang dengan jurus personal branding. 

Nggak ada yang salah dengan itu. Tapi netizen sekarang jauh lebih kritis menyikapi personal branding yang palsu dan by design. Misal seorang teman yang punya hobi stalking akun media sosial orang lain namun ia berlatar belakang psikologi dan antropologi sosial, dengan gampangnya akan berujar “wah orang ini kerja apa ya kok bisa ke sana-sini di jam kerja? Menginap di hotel mewah, padahal kalau dilihat postingan yang dulu ia hanya ngekost dan orangtuanya hidup sederhana, ini nih foto pas lebaran buktinya”. Atau “wah foto ruangan ini sih sebenarnya mau pamer tas mahalnya dia, tuh kelihatan kan maksud postingannya”, atau “ini orang naik business class terus padahal linkedin nya bilang dia cuma manager level, pasti ortunya kerja di airlines nih”… Kepo sosial pun bisa dilakukan dengan melihat apa yang seseorang update di kanal media sosial mereka. Yang pintar akan tidak mudah impressed dengan kepalsuan foto-foto indah di Instagram. Menurut gue cepat atau lambat suka orang-orang akan tau mana yang palsu dan yang genuine. 

Untungnya, di sisi yang lain masih banyak orang yang tidak menggunakan media sosial unuk mengajarkan kepalsuan namun menggunakan sebagai wadah positif untuk menginspirasi orang lain, berbagi cerita yang menggugah, inovasi, empowerment bahkan fund raising untuk membantu orang terentu. Yes, we need more genuine life-changing story rather than fake image to impress others. Gambar indah sudah banyak di instagram, tapi cerita yang lebih indah, jujur, humble, apa adanya dan penuh dengan inspirasi kehidupan mulai jarang. I wish we could resetting our mindset and back to zero again so we could utilise this new media to spread more genuine life stories to each other.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. andreas says:

    sebaiknya kita harus menggunakan media social dengan baik

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s