Orang Indo Yang Tumben Gak Belanja

Artikel Bloomberg yang menjadi perbincangan menjelaskan walaupun faktor peningkatan konsumsi meningkat, misalnya; gaji yang meningikat lebih dari dua digit, lapangan kerja baru tercipta, inflasi stabil dan suku bunga rendah, ternyata tidak merangsang pertumbuhan konsumsi. Kurangnya gairah masyarakat untuk menghamburkan uangnya di retail menjadi salah satu faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan. Kemudian semua bingung, apakah orang Indonesia beralih dari retail offline menuju online? Tampaknya data online belum bisa memastikan bahwa ada perubahan perilaku belanja dari brick & mortar ke dunia maya. Lantas, apakah pola belanja anak muda macam millenial akhir-akhir ini? Apakah mereka benar-benar tidak tertarik berganti-ganti model baju? Apakah mereka juga tidak tertarik membeli kendaraan pribadi? Ke mana uang mereka? Apakah mereka sibuk menabung sehingga spending mereka secara berkala berbelanja pakaian berkurang drastis?

Gue yakin memang ada perubahan pola belanja para konsumen Indonesia ke arah tertentu. Minat orang Indonesia untuk membeli barang melalui online memang tinggi sekali, namun angkanya tidak membuktikan perubahan itu. Mungkin karena banyaknya pedagang bisnis rumahan dari kosmetik, sneakers, kaos bahkan buah-buahan memiliki katalog di Instagram namun transaksi terjadi secara offline atau transfer antar bank. Apalagi banyaknya mereka yang bertransaksi melalui channel macam LINE atau What’s App dan menggunakan cash on delivery, maka makin sulit untuk dideteksi peralihan belanja konsumen ke online channel. Transaksi dengan cash on delivery ini mungkin juga menyulitkan data pembelenjaan tercatat dengan jelas.

Perubahan pembelanjaan menuju hal yang bersifat experience dibanding bersifat benda juga tinggi. Lebih banyak konsumen yang mengumpulkan uangnya untuk keperluan traveling, misalnya. Sehingga wajar jika angka belanja traveling konsumen Indonesia meningkat sadis. Lihat saja kunjungan pameran travel yang kian membludak. Trend traveling meningkat sejak orang-orang menggunakan etalase hidup di Instagram. Seolah foto traveling menjadi mata uang baru di ranah gengsi dan status sosial.

Selain konsumen yang semakin cerdas, trend baju yang kembali ke basic bisa jadi menjadi trigger para konsumen Indonesia yang enggan berbelanja pakaian. Terima kasih kepada Uniqlo, H&M dan Pull and Bear dengan pakaian satu warna yang jauh lebih murah bahkan dibanding merk Nevada nya Matahari Dept Store. Cutting pakaian yang kekinian dan satu warna, cukup lah dipakai berkali-kali. Kalau ingin unik dan bervariasi, konsumen muda Indonesia lebih gemar membeli kaos di channel Instagram dari penjual indie daripada membeli di mall. Mall tetap ramai namun yang beli barang  berkurang.

Dipastikan kalau nanti mall isinya hanya coffee shop, food court, fitness centre dan etalase smartphone dan hanya satu atau dua gerai pakaian ternama merk internasional yang kelihatan. Mall masih digunakan sebagai pusat kegiatan sosial dan meeting, namun departement store yang sepi akan tergeser dengan berbagai macam resto dan cafe unik nanti. Konsep mall dengan 70% resto dan 30% retail akan bermunculan. Mall bisa jadi hanya sebuah katalog offline dimana fitting masih menjadi hal penting, namun nantinya transaksi akan tetap online dan menggunakan berbagai metode pembayaran.

Selain itu, sharing economy adalah hal besar yang bisa menjadi tolak ukur perubahan perilaku konsumen. Macetnya kota besar membuat taksi online dan ojek online populer sehingga orang mulai meninggalkan kendaraan pribadi. Memiliki kendaraan pribadi kini adalah beban (parkir dan bensin). Berbagi mobil dalam bentuk taksi online ini salah satu mengapa sharing economy adalah the next big thing. Millenials malas memliki komitmen dalam waktu yang lama untuk memiliki suatu hal yang sifatnya mahal, misal mobil dan rumah. Jangan heran jika pembelian mobil dan motor menurun kedepannya. Juga service macam airbnb, memudahkan belanja traveling tinggi karena ditopang oleh sharing economy ini yang membuat apa-apa lebih terjangkau.

Para pelaku ekonomi di bisnis retail harus lebih pintar menebak arah trend dan perubahan perilaku konsumen Indonesia yang sama seperti cara pikir penduduknya yang berubah-ubah secara cepat. Ke depannya, channel yang marak dan digemari di media sosial akan menjadi tolak ukur ke arah mana perilaku konsumen tertuju. Menjadi relevan dan selalu segar dalam inovasi menjadi dua hal untuk tetap menjadi pilihan konsumen cerdas.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. arshinara says:

    Wah, sharing economy sempet pernah ane denger beberapa waktu yang lalu. kalo nggak salah di Majalah Marketing – edisi: (lupa) Tapi, ane sendiri belum paham betul konsepnya seperti apa. 😦 | Ada beberapa element esensial yang mendorong trend untuk (mulai) berubah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s