Dunia Tanpa Empati

Membedakan yang benar dan yang salah tidak semudah yang kita bayangkan, karena dunia bukan hitam putih. Di dunia yang menuntut untuk terus maju dalam progress, membuat sebuah kesalahan itu adalah penghakiman dan bukan sebuah pelajaran, baik dari orang terdekat maupun orang yang jauh sekalipun. Dunia modern terutama korporasi menutut prilaku orang yang terlibat di dalamnya menghindari bad decision, perfect result dan tak ada ruang untuk kegagalan, walaupun dalam ranah hidup sehari-hari. Layaknya gagal itu sebuah aib.
Dalam hidup kebanyakan orang kerap melakukan kesalahan yang kadang berakibat fatal. Jalan hidup pun turun naik, percobaan selalu datang dan kita dihajar oleh Tuhan untuk bergesekan, tumbang, bangun, jatuh lagi, berdiri dan kemudian akhirnya tumbuh dan dewasa. Di sini kita diajarkan untuk mengerti kondisi orang-orang, belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, mengatasi problema dan menyaring siapa orang yang benar-benar penting untuk kita dan langkah apa yang harus kita ambil untuk tetap berdiri dan melangkah.
Sayangnya empati bukan milik semua orang. Sebagian lebih memilih menghindar, sebagian memilih untuk menggurui, sebagian lagi memilih untuk turut berujar ‘I told you so’. Di mana pertolongan tulus tanpa penghakiman pada saat ada orang yang membutuhkan? 
Ada yang bilang berempati dan membantu sama saja menjerumuskan, kita tidak mengajarkan apapun ke orang tersebut. Di sini gue merasa hal seperti ini yang abu-abu. Logika berbicara, bahwa membantu tidak perlu, karena berdasar track record orang ini tidak layak dibantu misalnya. Namun hati kadang iba, seseorang tidak perlu dihakimi atau diceramahi di kondisi ini. Yang dia perlu tahu cuma, siapa yang mau membantu dia untuk keluar dari situasi sulit tersebut? Dan itu hal terakhir yang ia butuhkan di momen tersebut.

Bagaimana dengan frase ‘Cerdas seperti ular dan tulus seperti merpati?’ Kapan dan saat yang mana kita harus tulus atau cerdas? Apakah membantu itu tulus? Atau naif? Apakah tidak membantu disebut cerdas? Tidak semua bisa mengatasi masalah hidup mereka, walaupun bukan kewajiban kita, kita punya kesempatan untuk membantu untuk akhirnya orang tersebut bisa bangkit. Sebagian yang tidak bisa mengatasi masalah mereka, berakhir dengan bunuh diri dan depresi. Memang bukan tanggung jawab kita, tapi for sure kita punya kesempatan untuk mengubah kondisi itu sebelum akhirnya berakhir tragis. Maukah kita mengambil kesempatan itu untuk menyentuh hidup seseorang, membuat sebuah perbedaan dan mengajak dia untuk keluar dari masalahnya. 
Dunia modern sudah terlalu terfokus ke setiap prinsip masing-masing seolah semesta berputar mengeliligi mereka. Tidak ada satupun yang ingin dirugikan secara materi dan semua menuntut untuk mendapat hak mereka. Kebanyakan dari kita melayani diri kita sendiri, sehingga kita lupa bahwa hidup untuk orang lain sekedar mengulurkan tangan berbagi berkat, meluangkan waktu untuk itu tidak pernah ada di agenda kita. Sulit membayangkan berada di posisi meminta saat berkat melimpah ruah. Tapi jangan tunggu kondisi berbalik untuk bisa terketuk hati berempati kan?
Sekali lagi ini hanya renungan, sampai saat ini gue pun masih berpikir keras dengan otak dan hati. Yang mana yang harusnya baik dan benar? Biar waktu dan perjalanan hidup kita yang memberi kita pengertian tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s