Meludah Digital

Sosial media mengeluarkan hal buruk dari kita semua. Ibarat meludah sembarangan, trolling, bullying dan berkomentar miring di ranah digital bebas sekali dilakukan. Kebebasan yang kebablasan tanpa disertai cara pikir dewasa seolah apapun yang dibagikan di media sosial yang sebenarnya bisa di akses oleh siapapun tidak memliki konsekuensi hukum. Walaupun akhirnya sekarang sudah mulai banyak yang ‘tercyduk’ oleh team cybercrime kepolisian Indonesia, karena menyebarkan kebencian, fitnah, hoax dan provokasi, namun masih banyak sekali yang ‘meludah’ dan dengan nada nynyir menghakimi orang lain di media sosial. Lihat saja akun akun infotainment macam lambe X lambe Z yang followersnya sibuk menghakimi siapapun yang sedang di expose di timeline mereka. Dari kasus perceraian, perselingkuhan bahkan pertiakaian yang tidak penting pun bisa jadi hangat karena semua orang sibuk meludah di kolom komentar.

Followers yang banyak dari kalangan ibu-ibu seolah menjadi hakim moral dan agama. Tidak satu atau dua kata yang negatif dan bernunansa kebun binatang dilontarkan. Yang lebih miris lagi, misal saat kasus perselingkuhan terbuka di publik, ada istilah Pelakor “Perebut Laki Orang” yang dijadikan cap hukuman sosial bagi si wanita sebagai orang ke-3 dan selalu jadi materi untuk mereka ludahi ramai-ramai. Tidak ada pengahkiman ke sisi laki-laki yang justru berselingkuh. Wanita seolah menjadi sasaran empuk bagi kaumnya sendiri untuk dihakimi. Karena pria toh kalau dikomentarin di media sosial tak akan berpengaruh banyak, sementara wanita sama-sama tahu bahwa meludah ramai-ramai ke si wanita itu cukup lah menjadi kambing hitam persoalan tersebut. Semua puas dan moralitas pun seolah kembali naik setelah membully ramai-ramai di kolom komen tersebut. Seorang teman menganggap wajar jika pria berandalan, namun wanita akan selalu jadi korban bully wanita lainnya.

Sebagai bangsa yang katanya penuh dengan budaya ketimuran, sering kali budaya ketimuran tersebut dijadikan dalih pembenaran untuk meludah. Budaya timur menjadi tolak ukur untuk membully dengan kata-kata di media sosial. Ditambah dengan akun anonimus yang berkedok, minimnya punishment secara hukum, serangan verbal bak ludah tadi menghujani siapa saja yang rasanya bertolak belakang dengan ‘budaya timur’ yang sekarang makin ketimur-tengahan. Tengok Rina Nose yang dihujat habis-habisan karena melepas hijab nya. Padahal apapaun alasan orangnya, budaya timur tadi selalu menjadi patokan bak hukum mutlak. Para wanita, saya mau bertanya, mau sampai kapan kamu menghujat dan menjadikan wanita lain kambing hitam akan ukuran budaya timur mu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s