Mengapa Kita Suka Belanja?

Studi dari Journal of Consumer Research mengatakan bahwa belanja itu adalah salah satu bentuk usaha pencapaian kebahagiaan yang asalnya dari rasa insecurity, kesepian, kebutuhan akan penerimaan secara sosial, kesepian bahkan marah. Saat menulis blog ini gue tengah menemani nyokap yang sibuk belanja di Mall Platinum Bangkok. Nyokap itu sulit menikmati hal-hal yang bentuknya macam hiburan, alam atau keindahan. Buat dia hiburan dan pelipur lara itu yang shopping. Kadang gue wondering apakah napsu belanja yang dimiliki dia itu berasal dari rasa kesepian atau penerimaan secara sosial? Karena keinginannya dia untuk membeli barang itu kadang tidak selalu masuk akal.

Kadang gue pun sama. Saat merasa tidak happy, insecure atau ada sesuatu yg terjadi dalam ritme hidup, seperti ganti pekerjaan, depresi atau stress, pasti ada keinginan untuk menghamburkan uang. Sneakers adalah the usual suspect korban menghamburkan duit tadi. Memang shopping sedikit mengobati sakit mental tadi tapi hanya sementara.

Tapi belanja itu adalah masalah mindset, prioritas dan perencanaan. Kebutuhan sering kali dimanipulasi oleh otak sehingga keputusan belanja sering diberi rasional untuk bisa escape dari logika dan rasa bersalah. Logika mengatakan ‘gue sudah punya banyak sepatu’ kemudian diberikan bumbu rasionlisasi seperti ‘tapi kan belum ada yang merk adidas…’ ya terus aja begitu. Gue sering begitu. Namun pada saat gue merasa cukup baru keinginan itu berhenti. Datang ke sebuah pusat perbelanjaan dengan rasa insecure itu bahaya. Orang di kiri dan kanan akan selalu lebih keren dan memiliki barang lebih (bagus, banyak, mahal) dari kita. Tinggal bagaimana kita bilang cukup aja. Jangan-jangan belanja hanya distraction aja, distraction dari problem sebenarnya dan berharap memiliki materi baru akan mengalihkan kita dari masalah sebenarnya? Siapa tahu.

Jadi kapan waktu yang tepat untuk membeli berbelanja? Paling tepat adalah saat kita butuh sesuatu tanpa ada usaha justifikasi pembenaran apapun. Sehingga barang yang dibeli benar-benar yang perlu dan tidak di dari emosial yang sementara. List down keperluan sehingga mengurangi keinginan yang ada di luar tujuan utama. Batasi pengeluaran. Dengan perhitungan matang dan alokasi budget diharapkan kita tahu kapan saat stop belanja. Cari tahu akar dari keinginan belanja, jangan-jangan kamu punya issue yang lebih besar dari yang kamu tahu.

Nah gue mau cari nyokap dulu. Takutnya doi tersesat di Platinum gara-gara heboh lihat pakaian in itu lagi.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Buruh SEO says:

    kalau menurut saya ya paling tepat waktu buat berbelanja itu ya pas habis gajian hehe
    slam kenal..saya dari buruhSEO ,,,jangan lupa mampir ke blog saya gan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s