India. Berharap Sedikit Terkejut Banyak; Part Delhi.

Banyak teman yang komentar mengenai awal rencana ke India akan selalu; “yakin lo? awas lo jorok banget, keinjek tai lho, awas diare, awas banyak yang nipu…” Semuanya bernada negatif dan bahkan ada yang sudah pernah ke India dan mereka langsung “itu pertama kalinya dan terkahir kalinya gue ke India”. Wah mental ini pun jadi sedikit ciut awalnya. Tapi rasa penasaran dan best deal dari SQ CGK-Delhi hanya 4,5 return ya sudahlah. Nekad. Tapi gak mau expect apa-apa selain modal toleransi tinggi dan obat diare.

Semua akomodasi, perjalanan darat dan beberapa paket tour sudah dibeli di Klook. Lumayan hemat biaya beberapa hal, karena kalau pakai tour satu orang bisa 14 juta dan kalau share berdua beberapa paket perjalanan ini hanya 3 juta per orang dengan hotel 7 jutaan per orang deh.

Hari pertama, bergegas ke Old Delhi dan begitu turun bajaj, segala macam manusia hadir di jalanan, banyak bapak-bapak agresif yang sibuk menawarkan walking tournya dengan intens dan, asli, bikin sakit kepala dibuatnya. Belum lagi suara klakson yang berlomba-lomba macam ada kompetisi klaskon se kecamatan. Ternyata di India, membunyikan klakson itu wajib, terutama saat orang berpapasan dengan kendaraan lain. Lah di jalanan itu ada ribuan kendaraan lain jadi bayangin aja berisiknya gimana tuh jalanan. Walaupun mirip dengan pasar minggu jaman dahulu, becek dan bau selokan semerbak di daerah ini. Tapi jangan sedih, ada mesjid Jama yang cukup menghibur karena posisinya yang tinggi di antara bangunan lain, kita bisa melihat Old Delhi dari beberapa sudut.

Malamnya gue join private tour yang di book melalui Klook. Dengan 400-500 ribu rupiah, diantar ke 3 tempat dengan satu mobil dan tour guide yang informatif, berbagai cerita mengenai dewa-dewa Hindu di Shri Laxminarayan Temple terdengar seperti cerita Lord of The Ring. Di sini gue baru sadar kalau nama orang Indonesia itu banyak sekali mengambil nama dewa dewi dan mitologi Hindu dan Sansekerta. Bahkan macam Sita, Kartika, Bayu, Aditya, Chandra, Devi… anyway mungkin gue aja yg sebelumnya ignorance.

Venue berikutnya malam itu adalah Gurudwara Bangla Sahib, temple Sikh yang cukup besar dan malam itu lumayan ramai karena ada kegiatan khusus yang gue nggak begitu paham apa. Mereka berkeling dan memberi penghormatan kepada guru dan.. buku. Di kompleks tersebut ada kolam besar yang disebut Sarovar, yang katanya bisa menyembuhkan body mind and soul. Jujur tempat ini memang menenangkan bahkan saat mendengar mereka chanting sekalipun lo nggak paham, tetap memberikan aura magis. Di bagain lain kuil ini ada dapur umum yang memberikan para pengunjung makanan gratis, vegan food. Si tour guide menjelaskan kalau jam tertentu dapur umum ini dipadati dengan sukarelawan yang memasak buat para pengunjung. Dan tour itu ditutup dengan traktiran chai masala tea dan gorengan vegetarian di belakang komplek kuil. Damn chai masala tea ini bener-bener refreshing! Oh iya, yang tadinya gue siap sedia dengan omongan bahwa bau semerbak badan penduduk lokal cukup kuat, tapi nggak tuh malah mereka cenderung wangi, banget, kayak satu minyak wangi disiram ke badan. Mungkin karena winter mereka nggak keringetan, whatever, tapi secara umum orang-orang wangi aja sih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s