Bumerang Pansos

Panjat sosial adalah sebuah kegiatan penuh resiko yang bisa menjadi bumerang maut bagi yang melakukannya. Masa sih? Iya, gini hari, para netizen pirsawan yang kadang bijak, namun mostly sok tahu, semakin lama juga semakin pintar dalam menilai fenomena sosial. Netizen sebagai penonton sudah tidak mau lagi pasif dan bungkam seribu bahasa saat dijejelin fakta-fakta palsu settingan layaknya mereka menonton berita atau infotainment di televisi di masa lalu.

Mayoritas netizen yang cerdas akan menyikapi pansos dengan bijak (nyinyir dalam hati saja) atau yang sedikit kurang bijak akan menyampaikan secara langsung namun sering kali ditanggapi negatif oleh si pelaku pansos. Dan tidak sedikit juga yang silau dan buta akan image settingan si pelaku panjat sosial. Yang terkahir ini adalah candu bagi para pelaku pansos. Mereka adalah bensin yang membakar nyala-nyala gairah untuk tampil lebih dari apa adanya. Mereka adalah penonton setia cinta buta dan ignorant people yang nalar nya memang belum bisa menilai ke level tertentu. Apa yang mereka lihat itu yang mereka serap. Kenaivan ini yang dimanfaatkan oleh para pelaku pansos.

Netizen bijak dan kurang bijak adalah para juri yang mampu menilai niat-niat culas para pelaku panjat sosial. Terima kasih comment page, walaupun dibanjiri dengan cyber bullying anonimus, tapi banyak juga yang berani tanpa bersembunyi menyampaikan concern yang kadang terdengar nyinyir di telinga namun jujur apa adanya dengan maksud kurang lebih “hey aku tahu niat terpendam mu yang ingin riya, berhentilah jadi manusia palsu, jadilah manusia apa adanya”. Yang lain hanya bisa menyimpan statementnya dalam hati saja dan terungkap dalam offline topik yang hadir dalam pembicaraan di meja-meja coffee shop teranyar.

Sayangnya para pelaku pansos seolah lupa dan play victim korban cyber bullying. Padahal saat seseorang melalukan panjat sosial dan dipublikasikan gamblang, itu adalah umpan untuk para netizen cerdas dan bijak untuk berperan serta melakukan kontrol sosial. Si pansos lupa, mereka tidak bisa menipu dan menyihir semua orang agar terpana. Sebagian akan mencium bau-bau anyir niat culas, pemalsuan image diri demi eksistensi.

Dinamika interaksi di media sosial yang kadang bisa out of control, semakin lama akan semakin dewasa. Pemerhati-pemerhati fenomena sosial macam riya, citra palsu, settingan, hoax semakin aktif untuk bicara. Dan itu adalah kontrol sosial agar tidak kebabalasan. Agar tidak jadi toxic. Saran saya untuk para pelaku panjat sosial, tobatlah. Berhentilah menjadi seseorang yang bukan dirimu. Yang bukan kelas sosial mu. Yang bukan keberhasilan mu. Yang bukan milikmu. Yang bukan hasil keringat mu. Yang bukan kamu mampu.

Dunia kini lebih menghargai sosok sosok genuine apa adanya. Umumkan insecurity mu, berani tertawakan diri sendiri, be sloppy, be real, make mistakes and share your flaws. People will love you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s